19th December 2012 Cat: Skripsi with Comments Off

PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi adalah salah satu contoh PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi dalam bentuk PDF secara gratis.

Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi Materi Menggunakan Internet Untuk Memperoleh Informasi Pada Siswa Kelas Ix Bsemester 1 Smp Negeri 3 Karangjati Tahun Pelajaran 2007/2008

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Negara berkembang selalu berusaha untuk mengejar ketinggalannya, yaitu dengan giat melakukan pembangunan di segala bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagai cara seperti mengganti kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran atau melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, memberi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan sebagainya. Sesuai dengan UU no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 3 menyatakan bahwa ; “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dengan memperhatikan isi dari UU No. 20 tahun 2003 tersebut, peneliti berpendapat bahwa tugas seorang peneliti memang berat, sebab kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh keberhasilan pendidikan dari bangsa itu sendiri. Jika seorang seorang guru atau pendidik tidak berhasil mengembangkan potensi peserta didik maka negara itu tidak akan maju, sebaliknya jika guru atau pendidik berhasil mengembangkan potensi peserta didik, maka terciptalah manusia yang cerdas, terampil, dan berkualitas.

Untuk mencapai tujuan ini peranan guru sangat menentukan. Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19), peran guru adalah: “Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, dan evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan mengganti cara / model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah dan tanya-jawab, model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif. Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif).

Pada SMP Negeri 3 Karangjati Ngawi sejak peneliti mengajar, dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi , peneliti sering menggunakan model pembelajaran ceramah. Model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak mau bertanya apalagi mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan.

Melihat kondisi ini, peneliti berusaha untuk mencarikan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa yaitu model penugasan siswa secara kelompok untuk berdiskusi. Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang (melihat kondisi siswa di kelas). Dari diskusi yang telah dilaksanakan, ternyata siswa masih kurang mampu dalam mengemukakan pendapat, sebab kemampuan dasar siswa rendah. Dalam bekerja kelompok, hanya satu atau dua orang saja yang aktif, sedangkan yang lainnya membicarakan hal lain yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok. Dalam melaksanakan diskusi kelompok, peneliti juga melihat di antara anggota kelompok ada yang suka mengganggu teman karena mereka beranggapan bahwa dalam belajar kelompok (diskusi) tidak perlu semuanya bekerja. Karena tidak semua anggota kelompok yang aktif, maka tanggung jawab dalam kelompok menjadi kurang, bahkan dalam kerja kelompok (diskusi), peneliti juga menemukan ada di antara anggota kelompok yang egois sehingga tidak mau menerima pendapat teman.

Melihat kenyataan-kenyataan yang peneliti temui pada sikap siswa di dalam proses pembelajaran tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa aktivitas siswa di SMP Negeri 3 Karangjati Ngawi dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya materi menggunakan internet untuk memperoleh informasi sangat kurang. Dalam hal ini peneliti berani mengungkapkan karena memang aktivitas siswa SMP Negeri 3 Karangjati Ngawi masih jauh dari pengertian aktivitas yang diungkapkan dari para ahli, seperti Paul D. Dierich dalam Oemar Hamalik (2001: 173), mengemukakan bahwa jenis aktivitas dalam kegiatan lisan atau oral adalah mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.

Berdasarkan pengamatan atau observasi pendahuluan yang peneliti lakukan, ditemukan bahwa siswa SMP Negeri 3 Karangjati Ngawi dalam melaksanakan diskusi kelas jarang sekali mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, apalagi mengajukan saran. Karena aktivitas siswa yang rendah itu, hasil belajar yang diperoleh juga menjadi rendah. Hal ini dapat kita lihat dari nilai rata-rata hasil ujian semester genap kelas tahun pelajaran 2007/2008

Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain rendahnya perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Guru sering memberikan pelajaran dalam bentuk ceramah dan tanya-jawab, sehingga siswa tidak terangsang untuk mengembangkan kemampuan berfikir kreatif.

Berdasarkan pengalaman yang peneliti hadapi di dalam proses pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yang tidak aktif maka peneliti berusaha mencarikan model pembelajaran lain, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan lebih berkualitas.

Proses Pembelajaran adalah kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif tersebut mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, siswa dengan sumber belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Harapan yang ada pada setiap guru adalah bagaimana materi pelajaran yang disampaikan kepada anak didiknya dapat dipahami secara tuntas. Untuk memenuhi harapan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, karena kita sadar bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda baik dari segi minat, potensi, kecerdasan dan usaha siswa itu sendiri. Dari keberagaman pribadi yang dimiliki oleh siswa tersebut, kita sebagai guru hendaknya mampu memberikan pelayanan yang sama sehingga siswa yang menjadi tanggung jawab kita di kelas itu merasa mendapatkan perhatian yang sama. Untuk memberikan pelayanan yang sama tentunya kita perlu mencari solusi dan strategi yang tepat, sehingga harapan yang sudah dirumuskan dalam setiap Rencana Pembelajaran dapat tercapai. Dari hasil penelitian dan pengalaman mengajar siswa untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di SMP Negeri 3 Karangjati Ngawi, dimana kami telah menggunakan Pembelajaran, Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) dengan mempergunakan lembar tugas siswa kreatif, disini terlihat keaktifan siswa tapi belum semua siswa berani mengemukakan pendapat atau bertanya, dari hasil pengamatan kami dalam proses pembelajaran ini disebabkan karena tingkat berpikir siswa yang berbeda-beda, ada yang lambat dan ada yang cepat, sehingga dalam proses pembelajaran masih didominan oleh siswa yang pintar.

Laporan ini disusun dengan sistematika secara garis besar meliputi Pendahuluan, Kajian Pustaka, Pelaksanaan Perbaikan, Hasil Penelitian dan Pembahasan, Kesimpulan dan Saran. Laporan ini disusun berdasarkan catatan yang dibuat ketika merancang kegiatan perbaikan serta selama pelaksanaan, observasi dan diskusi yang dilakukan penelitian tindakan kelas untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di kelas IX B . Pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia. Menciptakan manusia yang cerdas dan maju perlu diimbangi dengan peningkatan mutu pendidikan. Mutu pendidikan sangat erat kaitannya dengan mutu guru. Kunci keberhasilan pelaksanaan sangat ditentukan oleh faktor guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran. Namun semua juga tidak terlepas dari kemampuan siswa dari proses pembelajaran berlangsung, dari proses belajar mengajar ini harus kerja sama antara guru dengan murid ini akan menghasilkan hasil yang maksimal dengan meminimalkan kendala yang ada dengan memaksimalkan keunggulan dari keduanya

DAFTAR PUSTAKA

Arifin Zaena. (1990). Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remadja Karya

Choiriyah, Siti (2006). Acuan Pengayakan Ilmu Pengetahuan Alam . Solo : Sindhunata

Gredler, Margaret E. Ball, (1991). Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali

Suryadi, Didi. (1997). Alat Peraga dan Pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam . Jakarta : Ditjen Dikdasmen D2 Karunika UT

Winkel. W.S (1987). Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia

Yohanes Surya (1997), Olympiade, Jakarta : Galaxy.

Daniel Muijs dan David Reynolds 2000. EffectiveTteaching Teori dan Aplikasi ( Edisi ke -2 ) Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Nana Sudjana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Gagne, Robert M and Leslie J. Briggs, 1978. Principles of Instructional Design. 2nd Ed, New York : Holt Rinehart and Winstons.

Hisyam Zaini, Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani, 2004, Strategi PembelajaranAktif, CTSD,IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Untuk mendapatkan file skripsi lengkap (Ms.Word), hubungi : 08572 8000 963

PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi adalah salah satu contoh PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan PTK SMP 67 – Penggunaan Metode Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Teknologi Informasi Dan Komunikasi dalam bentuk PDF secara gratis.

contoh makalah sistem rem,JURNAL PEMBELAJARAN DEMONSTRASI pada praktikum biologi,teori tabularasa,contoh kajian teori makalah hiv/aids,peningkatan motivasi belajar pada siswa berintelegensi rendah melalui konselin behaviorg behavior,metode pembelajaran humanis solusi meningkatkan kemampuan komunikasi,makalah bab 2 tentang definisi sikap kerja],kumpulan contoh asme,kumpulan jurnal cipta karya,Contoh pertanggung jawaban askes

Related Post Powered by G o o g l e :