<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Contoh Makalah Jurnal Skripsi Tesis</title>
	<atom:link href="http://www.contohmakalah.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.contohmakalah.net</link>
	<description>Download Kumpulan Contoh Makalah Jurnal Skripsi Tesis</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 17:06:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</title>
		<link>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-akan-penghargaan-dengan-motivasi-berprestasi-pada-karyawan/2012/1754/</link>
		<comments>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-akan-penghargaan-dengan-motivasi-berprestasi-pada-karyawan/2012/1754/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 17:06:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>febrilatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[Akan]]></category>
		<category><![CDATA[antara]]></category>
		<category><![CDATA[Berprestasi]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[KARYAWAN]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUASAN]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[Penghargaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalskripsi.net/hubungan-antara-kepuasan-akan-penghargaan-dengan-motivasi-berprestasi-pada-karyawan/2002/1754/</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan adalah salah satu contoh Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
<div style="border: 0px solid silver; overflow: auto; width: 100%; height: 600px;">BAB I</p>
<p>PENDAHULUAN</p>
<p>A.   Latar Belakang Masalah</p>
<p>Setiap manusia, baik sedikit atau banyak pasti memiliki tujuan-tujuan yang</p>
<p>hendak dicapai untuk keberhasilan hidupnya. Untuk mencapai tujuan tersebut</p>
<p>dibutuhkan kemauan dan kemampuan. Kemauan yang kuat akan memberikan</p>
<p>warna yang kuat dari dalam individu terhadap keberhasilan dalam mencapai cita-</p>
<p>cita. Secara keseluruhan tingkah laku manusia dituntut untuk mencapai kemajuan</p>
<p>dan mewujudkan diri sendiri di dalam dunianya memerlukan motivasi.</p>
<p>Ahmadi dan Supriyono (1991: 38) berpendapat bahwa motivasi adalah suatu</p>
<p>kekuatan dari dalam untuk mencapai tujuan tertentu Semua motivasi manusia</p>
<p>berpangkal pada 3 macam motivasi, yaitu (1) motivasi mempertahankan diri, (2)</p>
<p>motivasi mempertahankan jenis dan (3) motivasi mengembangkan diri. motivasi</p>
<p>yang dimiliki oleh individu untuk memenuhi kebutuhan akan prestasi kerja adalah</p>
<p>motivasi untuk mengembangkan diri sehingga dapat mencapai rasa kepuasan</p>
<p>kerja sesuai dengan tujuan yang dinginkan disebut motivasi berprestasi.</p>
<p>Dalam manajemen organisasi motivasi sangat dibutuhkan untuk</p>
<p>meningkatkan prestasi kerja. Dikatakan oleh Wijono (2003: 36) bahwa motivasi</p>
<p>kerja dapat ditimbulkan oleh komunikasi yang positif dan harmonis dalam</p>
<p>organisasi. Motivasi kerja ini dapat menimbulkan motivasi berprestasi dalam</p>
<p>kerja sehingga antara atasan dan bawahan dalam organisasi secara bersama-sama</p>
<p>untuk prestasi kerja lebih baik sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Semakin</p>
<p>tinggi motivasi kerja, semakin tinggi juga prestasi yang diperlihatkan sehingga</p>
<p>dalam diri karyawan atau pengawai akan memiliki motivasi berprestasi dalam</p>
<p>kerjanya.</p>
<p>Motivasi berprestasi menurut Lindgren (As’ad, 1995: 34) adalah dorongan </p>
<p>yang  berhubungan  dengan  prestasi,  yaitu  adanya  keinginan  individu untuk</p>
<p>menguasai, mengatur lingkungan sosial maupun lingkungan fisik, mengatasi</p>
<p>rintangan, mempertahankan kualitas kerja yang tinggi dan bersaing melalui usaha-</p>
<p>usaha yang keras untuk melebihi prestasinya orang lain. </p>
<p>Prestasi tinggi yang dimiliki seorang individu ini dibutuhkan oleh setiap</p>
<p>perusahaan dalam mencapai tujuan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.</p>
<p>Perkembangan perusahaan dapat maju membutuhkan tenaga manusia yang</p>
<p>terampil dan cekatan dalam menyelesaikan tugas-tugas atau tanggung jawabnya.</p>
<p>Tenaga kerja yang terampil dan cekatan dalam menyikapi perubahan masyarakat</p>
<p>dalam bidang ekonomi akan mampu bersaing dengan SDM lain dalam bisnis di</p>
<p>bidang ekonomi.</p>
<p>Munurut Musanef (1990: 23) berhasilnya suatu perusahaan sangat</p>
<p>ditentukan oleh orang-orang yang berada di dalam organisasi, baik yang</p>
<p>digerakkan maupun yang menggerakkan. Suatu organisasi tidak akan berhasil</p>
<p>mencapai tujuan apabila tenaga kerja tidak memenuhi persyaratan-persyaratan</p>
<p>yang ditentukan oleh kerjasama tersebut. Jadi manusia sebagai tenaga kerja yang</p>
<p>pencipta ide-ide dalam pekerjaan merupakan faktor penentu atau produktivitas</p>
<p>yang paling besar besar dalam aktivitas suatu perusahaan. Untuk itu, supaya</p>
<p>manusia yang bekerja sesuai dengan tuntutan perusahaan, maka harus ada</p>
<p>integrasi antara karyawan dan perusahaan. Pemahaman yang baik terhadap</p>
<p>karyawan sangat diperlukan untuk menciptakan semangat kerja yang tinggi pada</p>
<p>karyawan dalam melakukan pekerjaan dan tugasnya. Pemahaman dari perusahaan</p>
<p>atau pimpinan akan membuat karyawan termotivasi untuk berprestasi demi</p>
<p>dirinya dan perusahaan.</p>
<p>Masalah motivasi berprestasi yang dimiliki oleh karyawan dapat</p>
<p>memberikan sumbangan yang tidak dapat dihitung dengan imbalan, karena hal ini</p>
<p>dapat meningkatkan produktivitas yang akan berpengaruh perkembangan suatu</p>
<p>perusahaan sehingga perusahaan memperoleh keuntungan serta dapat menjaga</p>
<p>kelangsungan hidup dan masa depan. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan</p>
<p>karyawan yang mempunyai motivasi berprestasi sehingga dapat mempertahankan</p>
<p>kualitas kerja tinggi dan bersaing melalui usaha-usaha yang ditemui dapat</p>
<p>diselesaikan dengan baik sehingga produktivitas kerja dapat meningkat lebih</p>
<p>tinggi. </p>
<p>Perilaku karyawan dalam aktivitas kerja untuk meningkatkan produktivitas</p>
<p>memerlukan dorongan-dorongan tertentu, salah satu dorongan tersebut adalah</p>
<p>dengan memberikan penghargaan bagi karyawan yang berprestasi. Moekijat</p>
<p>(1998: 154) berpendapat bahwa penghargaan merupakan salah satu kebutuhan</p>
<p>yang diperlukan dalam organisasi, sebab dengan pemenuhan kebutuhan akan</p>
<p>penghargaan seorang individu dapat merasa dihargai, dihormati, dan dapat</p>
<p>memberikan simbol status yang positif bagi karyawan. Kurniawan (2002: 125)</p>
<p>menyatakan bahwa bentuk pemberian penghargaan tersebut dapat berupa gaji,</p>
<p>promosi, bonus, pengakuan dan pujian. Penghargaan faktor penting bagi</p>
<p>karyawan sebab pemberian penghargaan ini berdampak pada perilaku dan kinerja</p>
<p>karyawan. </p>
<p>Perilaku dan kinerja karyawan yang berkaitan dengan prestasi dan</p>
<p>penghargaan dalam diri karyawan sebagai seorang individu merupakan salah satu</p>
<p>kebutuhan. Dikatakan oleh Maslow (dalam Koswara, 1991: 110) bahwa</p>
<p>kebutuhan penghargaan dari orang lain (perusahaan) dapat meningkatkan rasa</p>
<p>harga diri (need for self-esteem). Individu sebagai tenaga kerja dalam perusahaan</p>
<p>membutuhkan penghargaan atas kemampuan yang dimiliki dan tindakan yang</p>
<p>telah dilakukannya. Untuk memenuhi kebutuhan harga diri yang berupa</p>
<p>penghargaan dari perusahaan, karyawan berusaha untuk bekerja lebih baik dari</p>
<p>orang lain yang mendorong karyawan tersebut dapat menyelesaikan tugas lebih</p>
<p>sukses guna mencapai prestasi yang tinggi. Apabila individu dapat mencapai</p>
<p>prestasi tinggi akan timbul rasa kepuasan dalam hatinya. </p>
<p>Kepuasan kerja karyawan dalam suatu perusahaan merupakan faktor</p>
<p>penting yang perlu diperhatikan oleh seorang pimpinan. Sebab kepuasan kerja</p>
<p>karyawan merupakan salah satu faktor untuk menciptakan jalannya suatu</p>
<p>organisasi dapat berjalan harmonis. Karyawan yang merasa puas akan hasil</p>
<p>kerjanya secara langsung akan meningkatkan berprestasi kerja untuk memperoleh</p>
<p>hasil kerja yang maksimal. Maslow berpendapat bahwa kepuasan dirasakan oleh </p>
<p>individu,  bukan oleh  sebagian  tubuh  individu. Lebih rinci konsep Maslow</p>
<p>dalam hubungan kebutuhan dan rasa kepuasan sebagai berikut:</p>
<p>1.  Apabila suatu kebutuhan telah terpuaskan  individu pada saat tersebut tidak</p>
<p>akan berusaha untuk meneruskan pemuasannya, melainkan akan berusaha</p>
<p>memuaskan kebutuhan lain yang lebih tinggi, dan</p>
<p>2.  Kebutuhan yang tingkatannya lebih rendah pemuasannya lebih mendesak dan</p>
<p>akan didahulukan oleh individu dari pada kebutuhan yang lebih tinggi (dalam</p>
<p>Koeswara, 1991: 111). </p>
<p>Berdasar pada pengertian kutipan di atas dapat dipahami bahwa manusia</p>
<p>sebagai tenaga kerja yang disebut dengan karyawan dalam kehidupannya</p>
<p>berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang ingin dicapai mendorong</p>
<p>karyawan tersebut untuk menyelesaikan tugas lebih sukses sehingga dapat</p>
<p>mencapai prestasi tinggi. Apabila individu dapat mencapai prestasi tinggi akan</p>
<p>timbul rasa kepuasan dalam hatinya. Kebutuhan berprestasi dan rasa kepuasan</p>
<p>yang yang dicapai mendorong individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan guna</p>
<p>mencapai tujuannya tersebut. </p>
<p>Kepuasan kerja karyawan dalam suatu perusahaan atau organisasi</p>
<p>merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan oleh seorang pimpinan,</p>
<p>terlebih-lebih pada karyawan bagian pemasaran pada perusahaan yang</p>
<p>memproduksi hasil barang. Sebab kepuasan kerja karyawan bagian pemasaran</p>
<p>merupakan salah satu faktor untuk menciptakan jalannya suatu organisasi dapat</p>
<p>berjalan lancar. Dengan adanya kepuasan kerja akan penghargaan yang diberikan</p>
<p>perusahaan pada karyawan bagian pemasaran, dapat memotivasi karyawan bagian</p>
<p>pemasaran meningkatkan prestasinya sehingga penjualan barang dapat meningkat. </p>
<p>Uraian tersebut di atas dapat dipahami bahwa antara motivasi berprestasi</p>
<p>dengan kepuasan akan penghargaan pada karyawan dalam suatu perusahaan</p>
<p>mempunyai kaitan yang erat. Untuk itu, permasalahan dalam penelitian ini dapat</p>
<p>dirumuskan: “Apakah ada hubungan antara kepuasan akan penghargaan dengan</p>
<p>motivasi berprestasi pada karyawan?”.</p>
<p>Berdasarkan permasalahan yang telah ditentukan tersebut, maka skripsi ini</p>
<p>diberi judul: “Hubungan antara kepuasan akan penghargaan dengan motivasi</p>
<p>berprestasi pada karyawan”.</p>
<p>B.   Tujuan Penelitian</p>
<p>Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk:</div>
<style="color: class="title"><blink><b>File Selengkapnya.....</b></blink></style="color:>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4885187213701503158-8763260041676741317?l=www.koleksiskripsi.com' alt='' /></div>
<p><strong>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-akan-penghargaan-dengan-motivasi-berprestasi-pada-karyawan/2012/1754/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</title>
		<link>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/</link>
		<comments>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 05:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>febrilatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[antara]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[GURU]]></category>
		<category><![CDATA[Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[Insecurity]]></category>
		<category><![CDATA[KEPUASAN]]></category>
		<category><![CDATA[KERJA]]></category>
		<category><![CDATA[negeri]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[Swasta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalskripsi.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2002/1753/</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta adalah salah satu contoh Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta untuk SMU SLTA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
<div style="border: 0px solid silver; overflow: auto; width: 100%; height: 600px;">BAB 1</p>
<p>PENDAHULUAN</p>
<p>A. Latar Belakang Masalah</p>
<p>Saat menjalankan fungsinya sebagai salah satu elemen utama dalam suatu</p>
<p>sistem kerja, karyawan tidak bisa lepas dari berbagai kesulitan dan masalah. Begitu</p>
<p>pula dalam dunia pendidikan. Salah satu masalah yang sering dan menjadi persoalan</p>
<p>misalnya job insecurity. Greenhalgh dan Rosenblatt (Farida, 2003) mendefinisikan</p>
<p>job insecurity sebagai “ketidakberdayaan untuk mempertahankan kesinambungan</p>
<p>yang diinginkan dalam kondisi kerja yang terancam”.</p>
<p>Job insecurity dapat dialami oleh siapapun dengan jenis pekerjaan apa saja,</p>
<p>secara umum orang berpendapat bahwa semakin tinggi jabatan yang dimiliki oleh</p>
<p>seseorang maka ia akan semakin mudah pula mengalami job insecurity  karena beban</p>
<p>tanggung jawab yang harus ditanggungnya juga semakin besar dibanding pemegang</p>
<p>jabatan yang lebih rendah. Anggapan semacam ini sebenarnya kurang tepat karena</p>
<p>orang yang bekerja di bawahnya juga dapat mengalami tekanan dalam pekerjaan. Jadi</p>
<p>tidak hanya pimpinan saja yang dapat mengalami job insecurity tetapi karyawan</p>
<p>biasapun bisa mengalaminya. Dalam batas-batas job insecurity  tekanan masih dapat</p>
<p>ditoleransi, tetapi bila melampaui batas daya tahan seseorang akan mengakibatkan</p>
<p>kerusakan penyimpangan-penyimpangan fisiologis, psikologis serta menyebabkan</p>
<p>hubungan yang tidak harmonis perilaku pada orang-orang yang terlibat dalam</p>
<p>organisasi (Farida, 2003).</p>
<p>Green (2003) menyatakan job insecurity sebagai kegelisaan pekerjaan, yaitu</p>
<p>sebagai suatu keadaan dari pekerjaan yang terus menerus dan tidak menyenangkan.</p>
<p>Karyawan yang mengalami job insecurity dapat mengganggu semangat kerja</p>
<p>sehingga efektifitas dan efisiensi dalam melaksanakan tugas tidak dapat diharapkan</p>
<p>dan juga akan mengakibatkan turunnya produktivitas kerja. Akibat turunnya</p>
<p>produktivitas tentu saja mempengaruhi keberlangsungan organisasi.</p>
<p>Guru sebagai pendidik maupun sebagai pengajar merupakan salah satu faktor</p>
<p>penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan. Gurulah yang seharusnya paling</p>
<p>memahami, mengapa prestasi belajar murid-muridnya menurun, mengapa sebagian</p>
<p>murid bolos atau putus sekolah, metoda mengajar apakah yang efektif, apakah</p>
<p>kurikulumnya dapat dilaksanakan, dan sebagainya. Guru-guru bersama kepala</p>
<p>sekolah dapat bekerjasama untuk memecahkan masalah-masalah yang menyangkut</p>
<p>proses pembelajaran tersebut. Untuk itu kepala sekolah dan guru-guru harus</p>
<p>dikembangkan kemampuannya dalam melakukan kajian serta analisis agar semakin</p>
<p>peka terhadap dan memahami dengan cepat cara-cara pemecahan masalah pendidikan</p>
<p>di sekolahnya masing-masing (Kartono, 2002). </p>
<p>Idealnya, mutu calon mahasiswa pendidikan guru harus yang terbaik karena</p>
<p>tugas mereka yang demikian penting di masa depan, yaitu mengembangkan SDM</p>
<p>bangsa ini seutuhnya. Guru mempunyai tugas penting dalam menumbuhkembangkan</p>
<p>kemampuan dan keterampilan siswa, serta menanamkan nilai-nilai yang baik</p>
<p>kepadanya. Mutu calon guru itu hanya akan dapat ditingkatkan jika profesi guru itu</p>
<p>benar-benar merupakan karier yang lebih memuaskan baik secara ekonomi maupun</p>
<p>profesional. Tentunya, masyarakat akan bersedia membayar mahal guru jika profesi</p>
<p>guru itu benar-benar langka dibutuhkan dan tidak setiap orang awam bisa melakukan</p>
<p>pekerjaan sebagai guru (Kartono, 2002).</p>
<p>Kenyataan pada masa sekarang terlihat adanya ketimpangan kesejahteraan</p>
<p>antara guru (PNS) dengan guru swasta. Sekolah negeri sejak awal pendirian sudah</p>
<p>difasilitasi oleh pemerintah, baik sarana dan prasarana maupun gaji gurunya.</p>
<p>Meskipun sudah ada yang berstatus Badan Usaha, seperti Universitas Gadjah Mada</p>
<p>(UGM) Yogyakarta. Tapi, biaya pendidikan merangkak naik, malah melebihi sekolah</p>
<p>swasta. Menjadi tidak adil bila para guru negeri gajinya berulang kali dinaikkan,</p>
<p>sementara gaji guru swasta atau honorer tetap jalan di tempat. Itu pun masih dibebani</p>
<p>pajak penghasilan yang mungkin juga untuk menggaji para guru negeri.</p>
<p>Darmaningtyas (dalam Kartono, 2002) mengemukakan situasi paling berat</p>
<p>dialami oleh para guru di sekolah-sekolah swasta kecil, baik yang ada di desa maupun</p>
<p>di kota. Basis material sekolah-sekolah swasta bergantung pada jumlah siswa;</p>
<p>semakin besar jumlah siswa semakin kuat pula sekolah itu, sebaliknya semakin kecil</p>
<p>jumlah siswa semakin lemah pula kondisi sekolah swasta tersebut. Mantan</p>
<p>Mendiknas Abdul Malik Fadjar (Kartono 2002) mengatakan bahwa guru bukanlah</p>
<p>buruh, tentu saja berkait dengan hakikat tugasnya. Ironisnya, sejumlah besar guru-</p>
<p>terutama guru swasta dan honorer-menerima pembayaran secara eceran alias sesuai</p>
<p>jam mengajarnya, dan itu berarti cara pembayaran buruh. Kalau selama seminggu</p>
<p>mengajar terus-me-nerus selama 40 jam pelajaran, maka dalam hitungan honor</p>
<p>selama sebulan seorang guru akan membawa pulang Rp 200.000, seandainya honor</p>
<p>per jam Rp 5.000. Status para guru demikian tidak memungkinkan perolehan</p>
<p>berbagai tunjangan atau dana pensiun.</p>
<p>Kenyataan lain yang bisa menambah stres seorang guru swasta seperti</p>
<p>kelangsungan mengajar pada guru swasta. seorang guru swasta biasanya terikat pada</p>
<p>kontrak kerjanya, jika kinerja guru swasta kurang bagus maka dia akan segera</p>
<p>dikeluarkan dari yayasan. Bila seorang guru swasta yang mendapat perlakukan tidak</p>
<p>adil dari pihak yayasan yang menaungi sebuah lembaga pendidikan, dia harus lebih</p>
<p>banyak menerima itu dengan pasrah. Hal itu karena tidak ada aturan yang jelas</p>
<p>tentang status hukum guru swasta Misalnya kasus yang belum lama terjadi di</p>
<p>Grobogan, Semarang. Seorang guru bantu (swasta)  yang dipecat dengan alasan tidak</p>
<p>bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Sebagaimana buruh perusahaan yang</p>
<p>dilindungi UU Ketenagakerjaan, guru bantu yang di-PHK juga harus diperlakukan</p>
<p>hak-haknya seperti halnya guru PNS sesuai dengan UU yang berlaku (Iskandar,</p>
<p>2003).</p>
<p>Dari sudut pandang manajemen guru, disadari atau tidak, adanya perlakuan</p>
<p>diskriminatif baik administratif maupun edukatif dalam keseluruhan pengelolaannya.</p>
<p>Hal ini dapat dipahami karena pola-pola manajemen guru senantiasa merujuk pada</p>
<p>ketentuan guru yang berstatus PNS. Dari aspek unsur dan prosesnya, masih dirasakan</p>
<p>terdapat kekurang-terpaduan antara sistem supervisi dan pembinaan guru. Guru PNS</p>
<p>mempunyai kesempatan mengumpulkan angka kredit untuk memperoleh kenaikan</p>
<p>pangkat, memperoleh kesempatan peningkatan diri melalui penataran, mengikuti</p>
<p>pendidikan lanjut, dan hak-hak lainnya, sementara guru bantu (swasta)  tidak sempat</p>
<p>menikmati fasilitas itu. Hal itu makin diperparah dengan beragamnya kebijakan</p>
<p>pemerintah daerah otonom yang merasa punya kewenangan mutlak untuk mengelola</p>
<p>mereka. Dengan perlakuan seperti itu, kesempatan pengembangan profesi di kalangan</p>
<p>guru bantu tidak dilakukan secara terprogram dalam keseluruhan manajemen guru. </p>
<p>Seperti yang diberitakan pada harian Kompas (dalam Gunawan, 2005) ratusan guru</p>
<p>bantu (swasta) melakukan demontrasi di Gedung DPR Jakarta untuk menuntut</p>
<p>ketidakadilan yang selama ini dirasakan oleh guru bantu, antara lain tentang kejelasan</p>
<p>status hukum mereka yang sudah mengajar begitu lama, kesejahteraan yang minim</p>
<p>dan tidak adanya penghargaan yang sepadan atas kinerja yang telah dilakukan..</p>
<p>Berkembang dan berakarnya sistem nilai sosial dan budaya masyarakat di</p>
<p>suatu tempat juga mempengaruhi kualitas kompetensi pribadi, sosial, kedisiplinan</p>
<p>dan profesional para guru bantu dalam mengemban tugasnya sebagai pendidik.</p>
<p>Misalnya setelah diberlakukannya UU No 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah,</p>
<p>sebagian besar pekerjaan rumah pemerintahan  pusat menjadi urusan daerah     </p>
<p>termasuk di dalamnya masalah pendidikan, terlebih khusus pada pokok bidang</p>
<p>sumber daya, finansial, dan sarana prasarana lokal tanpa perencanaan yang matang</p>
<p>dan prospektif. Misalnya saja antara guru yang mengajar di daerah perkotaan dan</p>
<p>pedesaan, kendala yang dihadapi oleh guru bantu yang mengajar di daerah pedesaan</p>
<p>relatif lebih berat dibandingkan daerah kota, baik itu dari segi sarana transportas,</p>
<p>prasarana mengajar, dan keuangan daerah.  (Gunawan, 2005)</p>
<p>Pemerintah telah merencanakan bahwa fokus pembangunan adalah</p>
<p>peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan pendidikan sebagai kunci</p>
<p>utamanya. Ini bisa dipahami dari konteks masyarakat Indonesia yang sudah tergolong</p>
<p>masyarakat industri modern. Surya (2004) mengemukakkan meski terbilang sulit</p>
<p>untuk menentukan karakteristik atau ukuran yang tepat dalam mengukur mutu</p>
<p>pendidikan, tetapi ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukurnya,</p>
<p>yaitu (1) kualitas guru dan (2) alat bantu proses pendidikan. Khusus pada hal pertama,</p>
<p>ada beberapa faktor yang mengakibatkan rendahnya mutu guru di semua jenjang</p>
<p>pendidikan. Pertama, kurangnya kesadaran dari para guru untuk mengembangkan</p>
<p>profesi keguruannya sehingga memunculkan guru-guru yang berpredikat &#8220;tukang</p>
<p>mengajar&#8221;, berpengetahuan statis, tidak cerdas, dan berbau &#8220;konservatif&#8221;, serta tidak</p>
<p>peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Profil guru seperti ini tidak hanya</p>
<p>ada di lembaga atau institusi pendidikan dasar saja, tetapi juga mulai merambah ke</p>
<p>lembaga pendidikan tinggi.</p>
<p> Kedua, banyaknya beban yang harus ditanggung sendiri oleh guru akibat</p>
<p>adanya tuntutan profesinya untuk menciptakan lulusan pendidikan yang prima tanpa</p>
<p>dibarengi perolehan finansial yang mencukupi kebutuhannya. Kondisi demikian</p>
<p>mengakibatkan adanya guru &#8220;nyambi&#8221;, dan konsentrasi guru yang demikian dalam</p>
<p>mentransferkan ilmunya tidak terfokus dengan baik dan hatinya tidak tenang. Ketiga,</p>
<p>adanya kasus-kasus sosial yang melibatkan oknum guru dan merusak citra guru</p>
<p>sebagai panutan moral. Hal ini dapat mengakibatkan ketidakharmonisan dalam</p>
<p>kontak antarpelaku pendidikan, antara guru dan siswa, sehingga proses transfer</p>
<p>keilmuan terganggu. Berbagai sorotan tajam terhadap profesi guru memang tidak</p>
<p>pernah berhenti. Satu di antaranya adalah ihwal pemotongan gaji guru yang</p>
<p>mengakibatkan mereka menjadi stres berat. Demikian pula suara-suara sumbang</p>
<p>terhadap rendahnya mutu calon guru.</p>
<p>Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah dinilai tidak memberikan</p>
<p>perhatian yang layak terhadap nasib guru dari sekolah swasta baik dari aspek hukum</p>
<p>maupun lainnya. Bahkan, posisi hukum guru swasta tersebut dinilai lebih rendah dari</p>
<p>buruh pabrik. &#8220;Kalau buruh pabrik diperlakukan tidak adil oleh perusahaan atau</p>
<p>misalnya di-PHK, mereka memiliki aturan hukum yang jelas bagaimana mengurus</p>
<p>nasib mereka dan apa yang akan mereka peroleh dari suatu tindakan PHK tersebut.                 </p>
<p>Namun, tidak demikian bila seorang guru swasta yang mendapat perlakukan tidak</p>
<p>adil dari pihak yayasan yang menaungi sebuah lembaga pendidikan, dia harus lebih</p>
<p>banyak menerima itu dengan pasrah. &#8220;Hal itu karena tidak ada aturan yang jelas</p>
<p>tentang status hukum guru swasta tersebut,&#8221; sangat berbeda dengan guru dengan</p>
<p>status pegawai negeri yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia</p>
<p>(PGRI) yang memiliki aturan  hukum  yang jelas  tentang status  mereka.                 </p>
<p>Padahal, kalau dilihat dari jumlah guru swasta di Indonesia jauh lebih besar</p>
<p>dibandingkan guru dengan status PNS. &#8220;Perbandingannya bisa mencapai 1:6 mulai</p>
<p>dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi (Iskandar, 2005)</p>
<p>Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, kepuasan kerja</p>
<p>secara langsung maupun tidak langsung merupakan penghambat aktivitas kerja yang</p>
<p>bekerja dalam organisasi. Persoalan-persoalan yang terjadi dalam lingkungan kerja</p>
<p>seperti konflik dengan teman, perselisihan, kepuasan kerja maupun ketidakmampuan</p>
<p>karyawan dalam menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya</p>
<p>berpeluang besar terhadap munculnya job insecurity. Berdasarkan uraian-uraian</p>
<p>tersebut maka dapat dibuat pertanyaan penelitian 1) Apakah ada hubungan antara</p>
<p>kepuasan kerja dengan job insecurity?  2) Apakah ada perbedaan kepuasan kerja dan</p>
<p>job insecurity antara guru negeri dan guru swasta?</p>
<p>Mengacu dari pertanyaan penelitian di atas, maka penulis tertarik untuk</p>
<p>mengadakan penelitian yang berjudul “Hubungan antara Kepuasan Kerja dengan</p>
<p>Job Insecurity  pada Guru Negeri dan Guru Swasta”. </div>
<style="color: class="title"><blink><b>File Selengkapnya.....</b></blink></style="color:>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4885187213701503158-3010604178530464888?l=www.koleksiskripsi.com' alt='' /></div>
<p><strong>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="contoh analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba dan nilai perusahaan">contoh analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba dan nilai perusahaan</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="tugas makalah jurnal">tugas makalah jurnal</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="skripsi pengaruh komunikasi interpersonal terhadap komitmen organisasi">skripsi pengaruh komunikasi interpersonal terhadap komitmen organisasi</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="pengertian media manik-manik pada paud">pengertian media manik-manik pada paud</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="makalh tentang citra produk">makalh tentang citra produk</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="makalah penelitian tentang baju gamis">makalah penelitian tentang baju gamis</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="makalah jurnal tentang lem">makalah jurnal tentang lem</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan beserta contohnya">karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan beserta contohnya</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="judul tesis penelitian di dinas pendidikan">judul tesis penelitian di dinas pendidikan</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/" title="contoh tugas akhir komunikasi dengan filter">contoh tugas akhir komunikasi dengan filter</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-kepuasan-kerja-dengan-job-insecurity-pada-guru-negeri-dan-guru-swasta/2012/1753/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</title>
		<link>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-penyesuaian-sosial-pada-remaja/2012/1698/</link>
		<comments>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-penyesuaian-sosial-pada-remaja/2012/1698/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 17:06:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>febrilatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[antara]]></category>
		<category><![CDATA[Asertif]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[Penyesuaian]]></category>
		<category><![CDATA[Perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalskripsi.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-penyesuaian-sosial-pada-remaja/2002/1698/</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja adalah salah satu contoh Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
<div style="border: 0px solid silver; overflow: auto; width: 100%; height: 600px;">BAB I</p>
<p>PENDAHULUAN</p>
<p>A. Latar Belakang Masalah</p>
<p>Pada dasarnya selain sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan</p>
<p>makhluk sosial. Dalam kehidupan sosial, individu tidak lepas dalam pergaulan</p>
<p>dengan   individu   lainnya,   karena   sebagai   makhluk   sosial   individu   harus</p>
<p>berinteraksi dengan individu lainnya. Begitu pula masa remaja secara psikologis,</p>
<p>pada masa remaja mulai terjadi usaha pencarian jati diri yang termanifestasi dalam</p>
<p>bentuk keinginan untuk berada didalam kelompok dengan cara bergaul dengan</p>
<p>orang lain disekitarnya (Mappiare, 1982).</p>
<p>Pada kehidupan sehari-hari, orang yang penyesuaian sosialnya tinggi akan</p>
<p>mudah   mendapatkan   teman,   berkomunikasi   dengan   baik,   menanyakan   atau</p>
<p>memberikan   informasi   selama   berkomunikasi.   Hal   tersebut   dilakukan   tanpa</p>
<p>menyebabkan   perasaan   tegang   atau   peraaan   tidak   enak   lainnya.   Dalam</p>
<p>lingkungan,   seseorang   yang   mampu   bergaul   dapat   mengemukakan   pandangan</p>
<p>atau pendapat pribadi secara jelas tanpa menyakiti perasaan orang lain serta akan</p>
<p>berhasil menyakinkan lawan bicaranya mengenai pendapat-pendapat yang akan</p>
<p>dikemukakannya (Kelley, 1982).</p>
<p>Namun   dalam   bergaul   tidak   jarang   individu   mengalami   kesulitan.</p>
<p>Khususnya   pada   remaja,   tidak   sedikit   remaja   yang   menjadi   seorang</p>
<p>individualistik,  acuh,  dan   tidak  peduli   dengan   orang  lain   maupun   lingkungan.</p>
<p>Remaja ini lebih mementingkan kesenangan sendiri tanpa peduli dengan situasi</p>
<p>dan kondisi lain maupun lingkungan. Seperti dikemukakan Calhoun dan Acocella</p>
<p>(1995)   bahwa   remaja   yang   mengalami   kesulitan   penyesuaian   sosial   ditandai</p>
<p>dengan kurang beraninya memulai percakapan, sulit berkata tegas terhadap diri</p>
<p>maupun orang lain, akibatnya tidak mempunyai teman akrab.</p>
<p>Sebagai contoh ketika berada di sekolah, siswa yang penyesuaian</p>
<p>sosialnya baik akan mempunyai kemampuan untuk berinteraksi secara baik pula</p>
<p>dengan teman-temannya di sekolah maupun dengan para guru. Interaksi yang</p>
<p>terjalin akan semakin menumbuhkan kebersamaan dan toleransi di antara siswa,</p>
<p>toleransi tersebut dapat berupa saling tolong menolong. Apabila salah satu siswa</p>
<p>mengalami kemunduran dalam hal pelajaran, maka dengan adanya penyesuaian</p>
<p>sosial yang baik siswa tersebut dapat meminta pertolongan siswa yang lainnya.</p>
<p>Di Indonesia pada tahun 1996 Pusbang Kurrandik (Pusat Pengembangan</p>
<p>Kurikulum   dan   Sarana   Pendidikan)   Balitbang   Dikbud   melakukan     penelitian</p>
<p>terhadap 4994 siswa sekolah menengah atas di provinsi Jabar, Lampung, Kalbar</p>
<p>dan Jatim, mendapatkan hasil bahwa 696 dari siswa SLTA (13,94 %)   tersebut</p>
<p>mengalami   kesulitan   dalam   aktivitas   belajar   umum,   dan   479   di   antaranya</p>
<p>disebabkan   oleh   gangguan   tingkah   laku   misalnya   nakal,   sulit   diatur,   suka</p>
<p>melawan, sering membolos dan berperilaku antisosial. Siswa dengan gangguan</p>
<p>tingkah laku ini seringkali mempunyai prestasi akademik di bawah taraf yang</p>
<p>diperkirakan  (Wiguna, 2000)</p>
<p>Kartono, (1985) menyatakan bahwa penyesuaian sosial adalah</p>
<p>keberhasilan seseorang untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri terhadap orang</p>
<p>lain pada umumnya dan pada kelompok pada khususnya. Penyesuaian sosial</p>
<p>dalam arti umum adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan</p>
<p>ataupun mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan sendiri. Dengan demikian</p>
<p>penyesuaian ada yang berarti “pasif” dimana individu yang dipengaruhi</p>
<p>lingkungan dan ada yang berarti “aktif” dimana individu yang mempengaruhi</p>
<p>lingkungan (Gerungan, 1987).</p>
<p>Menurut  Mappiare (1982) penyesuaian sosial adalah kemampuan individu</p>
<p>untuk berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan sekitar dalam rangka</p>
<p>memenuhi kebutuhan untuk dapat diterima oleh orang lain baik sesama jenis</p>
<p>kelamin atau lawan jenis agar memperoleh rasa dibutuhkan dan rasa berharga.</p>
<p>Ketika individu mulai bergaul dengan orang lain, individu tidak lagi hanya</p>
<p>menerima, tapi individu juga dapat memberikan kontak sosial. Individu mulai</p>
<p>mengerti bahwa di dalam suatu kelompok terdapat norma-norma sosial yang</p>
<p>hendaknya dipatuhi dengan rela agar dapat melanjutkan hubungan dengan</p>
<p>kelompok tertentu secara lancar.</p>
<p>Menurut Meichati (1983) penyesuaian dapat berlangsung karena ada</p>
<p>dorongan manusia untuk memenuhi kebutuhan, dimana dalam pemenuhan</p>
<p>kebutuhan itu manusia berusaha mencapai keseimbangan antara tuntutan sosial</p>
<p>dengan harapan yang ada didalam dirinya. Dengan adanya dorongan untuk</p>
<p>memenuhi kebutuhan maka individu dituntut untuk berinteraksi dengan individu</p>
<p>lain dan didalamnya akan terjadi proses saling mempengaruhi yang silih berganti</p>
<p>antara anggota-anggotanya.</p>
<p>Agar   berhasil   membina   hubungan   sosial   dengan   lingkungannya   remaja</p>
<p>harus berperilaku asertif. Karena perilaku asertif merupakan salah satu faktor yang</p>
<p>penting   agar   seseorang   mampu   melakukan   komunikasi   yang   bermakna   dan</p>
<p>menyenangkan   dengan   orang   lain.   Komunikasi   yang   bermakna   adalah</p>
<p>keterbukaan percakapan yang realistik, misal dapat mengkomunikasikan  dengan</p>
<p>baik pikiran, perasaan, kesalahan atau kegagalan, masalah dan   jalan keluarnya</p>
<p>kepada orang lain. Perilaku asertif dapat membantu seseorang dalam penyesuaian</p>
<p>sosial   di   masyarakat.   Hal   ini   dikarenakan   dalam   proses   penyesuaian   sosial</p>
<p>dibutuhkan   keterbukaan,   kesadaran   diri,   kemampuan   menyesuaikan   diri   dan</p>
<p>perhatian terhadap hak-hak orang lain (Calhoun dan Acoccela, 1995).</p>
<p>Perilaku asertif sangat diperlukan untuk berkomunikasi dengan orang lain</p>
<p>sebab  sebagai  makhluk  sosial  yang  sepanjang  hidupnya  selalu  terlibat   dengan</p>
<p>orang lain maka disadari atau tidak kemampuan berhubungan dengan orang lain</p>
<p>sangat dibutuhkan oleh manusia. Kemampuan berkomunikasi atau berhubungan</p>
<p>dengan   orang   lain   memiliki   andil   yang   besar   baik   di   lingkungan   sekolah,</p>
<p>pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan pendapat Agustin</p>
<p>(1993)   bahwa   perilaku   asertif   dapat   menolong   seseorang   untuk</p>
<p>mengkomunikasikan secara jelas dan tegas atas kebutuhan-kebutuhan, keinginan</p>
<p>dan perasaan kepada orang lain.</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas nampaklah bahwa perilaku asertif mempunyai</p>
<p>peranan yang penting bagi penyesuaian sosial. Bila individu berperilaku asertif,</p>
<p>mampu menyatakan perasaan dan keyakinan secara terbuka, langsung, jujur dan</p>
<p>sebagaimana   mestinya   akan   mengembangkan   dirinya   lebih   percaya   diri,   lebih</p>
<p>luwes, dan ramah serta lebih pandai bergaul sehingga akan memiliki penyesuaian</p>
<p>sosial yang baik.</p>
<p>Mengacu dari latar belakang masalah di atas maka yang menjadi rumusan</p>
<p>masalah adalah: apakah ada hubungan antara perilaku asertif dengan penyesuaian</p>
<p>sosial   pada   remaja.   Dari   rumusan   masalah   tersebut   penulis   tertarik   untuk</p>
<p>mengkaji   secara   empirik   dengan   melaksanakan   penelitian   dengan   judul</p>
<p>“Hubungan antara perilaku asertif dengan penyesuaian sosial pada remaja.</p>
<p>B. Tujuan Penelitian</p>
<p>Tujuan dalam penelitian ini adalah :</p>
<p>1. Untuk mengetahui hubungan antara perilaku asertif dengan penyesuaian sosial</p>
<p>pada remaja.</p>
<p>2. Untuk mengetahui sejauhmana kondisi perilaku asertif  pada subjek penelitian.</p>
<p>3.   Untuk   mengetahui   sejauhmana   kondisi     penyesuaian   sosial   pada   subjek</p>
<p>penelitian.</p>
<p>C. Manfaat Penelitian</p>
<p>Apabila hipotesis penelitian ini terbukti maka diharapkan dapat memberikan</p>
<p>manfaat sebagai berikut :</div>
<style="color: class="title"><blink><b>File Selengkapnya.....</b></blink></style="color:>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4885187213701503158-3781407999028077005?l=www.koleksiskripsi.com' alt='' /></div>
<p><strong>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-penyesuaian-sosial-pada-remaja/2012/1698/" title="contoh acknowledgements">contoh acknowledgements</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-penyesuaian-sosial-pada-remaja/2012/1698/" title="contoh makalah tentang ape">contoh makalah tentang ape</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-penyesuaian-sosial-pada-remaja/2012/1698/" title="donwload makalah APE">donwload makalah APE</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-penyesuaian-sosial-pada-remaja/2012/1698/" title="Pemrakarsa akuntansi">Pemrakarsa akuntansi</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-penyesuaian-sosial-pada-remaja/2012/1698/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</title>
		<link>http://www.contohmakalah.net/hubungan-kurang-energi-protein-dengan-kasus-penyakit-pnemonia-pada-balita-di-kota-jambi-tahun-2002/2012/1704/</link>
		<comments>http://www.contohmakalah.net/hubungan-kurang-energi-protein-dengan-kasus-penyakit-pnemonia-pada-balita-di-kota-jambi-tahun-2002/2012/1704/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 05:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>febrilatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[2002#]]></category>
		<category><![CDATA[Balita]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[Jambi]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Kurang]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Pnemonia]]></category>
		<category><![CDATA[Protein]]></category>
		<category><![CDATA[tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalskripsi.net/hubungan-kurang-energi-protein-dengan-kasus-penyakit-pnemonia-pada-balita-di-kota-jambi-tahun-2002/2002/1704/</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# adalah salah satu contoh Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
<div style="border: 0px solid silver; overflow: auto; width: 100%; height: 600px;">ABSTRAK</p>
<p>Pnemonia termasuk 10 besar Penyaki dan merupakan salah satu</p>
<p>penyebab kematian balita di Indonesia. Sala satu faktor risiko penyebab</p>
<p>insidens dan mortalitas Pnemonia adalah kuran Gizi (KEP).</p>
<p>Di Kota Jambi pada tahun 2001, Prey lensi Pnemonia pada Balita</p>
<p>adalah sebesar 2,1 % dan Prevalensi KEP seb sar 1,86 %. Meskipun angka</p>
<p>prevalensi tersebut kecil, yang dikhawatirkan a alah bila tidak mendapatkan</p>
<p>penanganan yang baik dapat menyebabkan kematian. Dan juga belum</p>
<p>diketahui apakah anak yang menderita penya it Pnemonia juga mengalami</p>
<p>KEP.</p>
<p>Tujuan penelitian ini adalah untuk engetahui hubungan KEP</p>
<p>terhadap kasus penyakit Pnemonia. Penelitian ni termasuk penelitian survai</p>
<p>analitik observasional dengan pendekata Cross Sectional, lokasi</p>
<p>penelitian seluruh Puskesmas di Kota Jambi (20 Puskesmas). Populasi</p>
<p>dalam penelitian ini adalah balita yang saki Pnemonia dan sampelnya</p>
<p>seluruh anak balita yang sakit Pnemonia pada b Ian Februari dan berkunjung</p>
<p>ke Puskesmas yaitu sebanyak 43 orang balit , diambil secara accidental</p>
<p>sampling.</p>
<p>HasHdari penelitian, penderita penyakit Pnemonia berat sebanyak 9</p>
<p>orang (20,9 %) dan Pnemonia ringan 34 oran (79,1 %). Balita yang sakit</p>
<p>Pnemonia berat dan juga KEP sebanyak 7 oran (77,8 %) dan yang dengan</p>
<p>gizi baik 2 orang (22,2 %). Sedangkan Balita ya g sakit Pnemonia ringan dan</p>
<p>juga menderita KEP sebanyak 21 orang (61,8 %) dan yang dengan status</p>
<p>gizi baik sebanyak 13 orang (38,2 %).</p>
<p>Rasio Prevalens ,.sebesar1,875 dengan CI 95 % (0,444;7,921) dan</p>
<p>hasil analisis regresi nilai F hitung 0,781 deng n probabilitas 0,382 &gt; 0,05..</p>
<p>Hipotesa alternatif ditolak dan hipotesa nol diteri a.</p>
<p>Dari peneliian yan,gdilkukan maka dapat isimpulkan bahwa tidak ada</p>
<p>hubungan yang bermakna antara KEP terhada kasuspenyakit Pnemonia di</p>
<p>Kota Jambi tahun 2002. Terjadinya Pnemonia erat pada balita yang KEP</p>
<p>kemungkinan disebabkan faktor kebetulan.</p>
<p>Disarankan perlu penelitian lebih lanju dimasa yang akan datang</p>
<p>dengan kasus yang lebih banyak dan rentan waktu yang lebih panjang</p>
<p>untuk menghindari terjadinya kesalahan-kesalah n dalam penelitian. </p></div>
<style="color: class="title"><blink><b>File Selengkapnya.....</b></blink></style="color:>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4885187213701503158-5166463468936748988?l=www.koleksiskripsi.com' alt='' /></div>
<p><strong>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002#</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-kurang-energi-protein-dengan-kasus-penyakit-pnemonia-pada-balita-di-kota-jambi-tahun-2002/2012/1704/" title="analisa data produktivitas kerja di perusahaan manufaktur">analisa data produktivitas kerja di perusahaan manufaktur</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-kurang-energi-protein-dengan-kasus-penyakit-pnemonia-pada-balita-di-kota-jambi-tahun-2002/2012/1704/" title="contoh makalah permasalahan yang dihadapi perusahaan dimakassar">contoh makalah permasalahan yang dihadapi perusahaan dimakassar</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-kurang-energi-protein-dengan-kasus-penyakit-pnemonia-pada-balita-di-kota-jambi-tahun-2002/2012/1704/" title="kuesiner menentukan menopause ya atau tidak">kuesiner menentukan menopause ya atau tidak</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-kurang-energi-protein-dengan-kasus-penyakit-pnemonia-pada-balita-di-kota-jambi-tahun-2002/2012/1704/" title="kumpulan makalah tugas tugas marginal">kumpulan makalah tugas tugas marginal</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-kurang-energi-protein-dengan-kasus-penyakit-pnemonia-pada-balita-di-kota-jambi-tahun-2002/2012/1704/" title="makalah pertumbuhan dan perkembangan anak balita">makalah pertumbuhan dan perkembangan anak balita</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.contohmakalah.net/hubungan-kurang-energi-protein-dengan-kasus-penyakit-pnemonia-pada-balita-di-kota-jambi-tahun-2002/2012/1704/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</title>
		<link>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/</link>
		<comments>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 05:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>febrilatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[antara]]></category>
		<category><![CDATA[Asertif]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Efektivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Guide]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[KERJA]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[Penyelenggaraan]]></category>
		<category><![CDATA[Perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[Umroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalskripsi.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2002/1703/</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji adalah salah satu contoh Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji untuk SMU SLTA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
<div style="border: 0px solid silver; overflow: auto; width: 100%; height: 600px;">BAB I</p>
<p>PENDAHULUAN</p>
<p>A. Latar Belakang Masalah</p>
<p>Saat sekarang yang merupakan era globalisasi, tak bisa dipungkiri bahwa</p>
<p>persaingan di segala bidang kehidupan semakin ketat. Persaingan itu mencakup</p>
<p>bidang ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Persaingan di bidang ekonomi tentunya</p>
<p>akan melibatkan berbagai perusahaan baik itu perusahaan tingkat bawah, menengah</p>
<p>serta atas, maupun perusahaan di sektor penghasil produk atau jasa pelayanan.</p>
<p>Salah satu bidang persaingan yang memerlukan kejelian dalam pengelolaan</p>
<p>manajemen yakni perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan konsumen.</p>
<p>Perusahaan seperti itu seharusnya lebih menitikberatkan pada kualitas sumber daya</p>
<p>manusia karena bagaimanapun, karyawan yang bergerak di bidang jasa akan</p>
<p>berhubungan langsung dengan pelayanan kepada  konsumen. Salah satu perusahaan</p>
<p>yang bergerak di bidang pelayanan konsumen yakni pelayanan umroh maupun haji. </p>
<p>Menunaikan ibadah haji, wajib hanya untuk sekali seumur hidup bagi yang</p>
<p>mampu, karena sekali pergi haji harus benar dan syah. Upaya penyempurnaan sistem</p>
<p>dan manajemen penyelenggaraan ibadah haji perlu terus ditingkatkan agar</p>
<p>pelaksanaan ibadah haji berjalan aman, tertib, dan lancar sesuai dengan tuntutan</p>
<p>agama. Akan tetapi banyak jamaah haji yang menyesal setelah pulang dari tanah suci</p>
<p>karena pihak perusahaan penyelenggara ibadah haji atau umroh melalui pemandu</p>
<p>atau pembimbingnya ternyata tidak mampu memimpin jamaahnya.</p>
<p>Sebagai perusahaan yang berhubungan langsung dengan pelayanan kepada</p>
<p>konsumen maka efektivitas kerja seorang guide atau pemandu yang melayani umroh</p>
<p>maupun haji sangat dituntut demi tercapainya tujuan perusahaan tersebut yakni</p>
<p>pelayanan yang baik dan sesuai dengan apa yang menjadi keinginan konsumen,</p>
<p>dalam hal ini adalah orang-orang yang ingin melaksanakan ibadah haji maupun</p>
<p>umroh. </p>
<p>Permasalahannya yang timbul bahwa efektivitas kerja tidak akan dapat</p>
<p>dicapai begitu saja tanpa adanya kesadaran dari pribadi masing-masing karyawan.</p>
<p>Untuk itu perlu kiranya seorang karyawan yang berhubungan langsung dengan</p>
<p>pelayanan konsumen hendaknya selalu meningkatkan segi-segi pengembangan</p>
<p>kepribadian yang dapat menunjang tercapainya efektivitas kerja. </p>
<p>Siagian (1983) mengemukakan efektivitas kerja adalah penyelesaian</p>
<p>pekerjaan tepat pada waktunya, artinya apakah suatu tugas dinilai baik atau tidak</p>
<p>sangat tergantung bilamana tugas itu diselesaikan. Efektivitas kerja dapat berarti pula</p>
<p>keberhasilan pekerjaan dari para pekerja dalam melaksanakan tugas-tugasnya, yang</p>
<p>mana tugas-tugas itu dilaksanakan untuk pencapaian tujuan organisasi dimana</p>
<p>individu bekerja di dalamnya. </p>
<p>Efektivitas dengan tolok ukur dilihat dari segi hasil adalah perbandingan</p>
<p>antara hasil riil yang dicapai seseorang dengan standar hasil minimum. Apabila hasil</p>
<p>riil itu di atas standar hasilnya itu dikatakan normal. Tetapi apabila hasil riilnya itu</p>
<p>berada di bawah standar minimumnya berarti hasil kerjanya tidak efektif. </p>
<p>Efektivitas kerja memegang peranan yang sangat penting dalam fungsi</p>
<p>pengembangan perusahaan, karena bila para karyawan dapat bekerja secara efektif</p>
<p>maka perusahaan tersebut akan dapat memaksimalkan sumber daya manusia yang ada</p>
<p>dalam menghadapi segala permasalahan yang muncul, baik dari segi industrial</p>
<p>maupun hubungan antar manusia. Hal tersebut seperti dikemukakan oleh Danim </p>
<p>(2004) bahwa efektivitas kerja adalah keseimbangan atau penekanan secara optimal</p>
<p>pada pencapaian tujuan, kemampuan pemecahan masalah dan pemanfaatan tenaga</p>
<p>manusia. Selain itu, dengan adanya pencapaian efektivitas kerja yang baik maka</p>
<p>diharapkan suatu perusahaan akan mampu menyatukan visi dan misi antara</p>
<p>kepentingan pribadi karyawan dengan sasaran ataupun tujuan perusahaan.</p>
<p>Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Steers (dalam Siagian, 1983) bahwa</p>
<p>efektivitas kerja adalah adalah internalisasi pengertian tujuan dan pencapaian tujuan,</p>
<p>dimana individu dianggap berperan dalam rangka menggabungkan diri dalam</p>
<p>kesatuan organisasi. Demikian pula organisasi dipandang sebagai kesatuan</p>
<p>pengejaran tujuan yang berusaha menggabungkan usaha bersama para anggotanya</p>
<p>untuk mengejar sasaran khusus keseluruhan organisasi. Namun perlu diperhatikan,</p>
<p>bahwa seperti diuraikan di atas bahwa efektivitas kerja akan dapat dicapai bila ada</p>
<p>kesadaran dari pribadi masing-masing karyawan untuk meningkatkan kualitas</p>
<p>dirinya, baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari perusahaan, hal ini berarti </p>
<p>peran kepribadian seorang karyawan yang berhubungan langsung dengan pelayanan</p>
<p>konsumen sangatlah penting. </p>
<p>Salah satu faktor kepribadian yang dapat mendorong meningkatkan</p>
<p>efektivitas kerja seorang karyawan yang berhubungan dengan pelayanan konsumen</p>
<p>yakni perilaku asertif,  karena dengan berperilaku asertif, karyawan akan mampu</p>
<p>mengungkapkan apa yang dipikirkan dengan cara yang konsisten, artinya individu</p>
<p>mampu mengekspresikan perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang</p>
<p>kebenaran, tidak menghina atau meremehkan orang lain. </p>
<p>Rathus (1992) mengemukakan perilaku asertif merupakan ungkapan</p>
<p>seseorang dengan cara yang konsisten sesuai dengan apa yang dipikirkan, artinya</p>
<p>individu mengekspresikan perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang</p>
<p>kebenaran, tidak menghina atau meremehkan orang lain.</p>
<p>Adanya perilaku asertif pada diri karyawan selanjutnya akan dapat menuntun</p>
<p>karyawan tersebut menjadi individu yang mampu berperilaku wajar dan sanggup</p>
<p>untuk mempertanggungjawabkan segala tingkah lakunya terhadap lingkungan</p>
<p>kerjanya. Dengan demikian karyawan yang berperilaku asertif, dalam berperilaku</p>
<p>tidak dibuat-buat dan terhindar dari kinerja yang hanya dimaksudkan untuk menjilat</p>
<p>atasan melainkan kinerja yang penuh ketulusan dalam melayani konsumen.</p>
<p>Sukadji (1981) menjelaskan lebih lanjut bahwa perilaku asertif merupakan</p>
<p>perilaku antar pribadi yang menyangkut pernyataan emosi dengan tepat, secara terus</p>
<p>terang dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain. Perilaku asertif dapat</p>
<p>mengarahkan seorang individu untuk mengemukakan emosinya secara tepat, terus</p>
<p>terang dan tanpa dihantui perasaan cemas sewaktu berkomunikasi dengan orang lain.</p>
<p>Selain itu dengan perilaku asertif pada diri karyawan, maka karyawan tersebut tidak</p>
<p>akan takut dalam mengemukakan hak-hak pribadi kaitannya dengan kemajuan</p>
<p>perusahaan dan juga mengemukakan emosi yang tepat kepada para konsumen</p>
<p>pengguna jasa layanan umroh maupun haji.</p>
<p>Lyod (1991) mengemukakan bahwa asertif adalah tingkah laku yang penuh</p>
<p>ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi dari setiap usaha untuk</p>
<p>membela hak-hak pribadi serta adanya keadaan efektif yang mendukung, meliputi:</p>
<p>mengetahui hak-hak pribadi, berbuat sesuatu untuk mendapatkan hak tersebut serta</p>
<p>melakukan hak tersebut sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi. </p>
<p>Pendapat di atas diperkuat oleh pendapat Iriani (1996) bahwa individu yang</p>
<p>mempunyai perilaku asertif akan menjadi individu yang tegas. Tegas karena individu</p>
<p>akan mempunyai alasan yang logis sehubungan dengan hak pribadi, mempunyai</p>
<p>penilaian bahwa seseorang boleh berpendapat atau berbicara berdasarkan kondisi</p>
<p>pribadi, mempunyai penilaian pada diri sendiri bahwa dirinya berhak mengemukakan</p>
<p>emosi secara bebas. Oleh karena itu guide atau pemandu penyelenggara umroh dan</p>
<p>haji dituntut untuk dapat berperilaku secara asertif, karena dengan adanya perilaku</p>
<p>asertif tersebut diharapkan guide dapat benar-benar menyatakan perasaan dan</p>
<p>keramahannya, perilakunya lebih responsif, berusaha memperlancar interaksi sosial,</p>
<p>bersikap hangat dan terbuka sehingga akan akan mendukung efektifitas kerja</p>
<p>berkaitan dengan pelayanannya terhadap para konsumen. </p>
<p>Mengacu pada uraian-uraian di atas maka dapat dibuat pertanyaan penelitian:</p>
<p>apakah karyawan yang berperilaku asertif akan memiliki efektifitas kerja yang tinggi?</p>
<p>Dari pertanyaan tersebut, peneliti ingin membuktikan secara empiris dan mengadakan</p>
<p>penelitian dengan judul “Hubungan antara perilaku asertif dengan efektivitas kerja</p>
<p>guide pada penyelenggara umroh dan haji di Surakarta.”</p>
<p>B. Tujuan Penelitian</p>
<p>Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui “Hubungan antara perilaku</p>
<p>asertif dengan efektivitas kerja guide  pada penyelenggara umroh dan haji di</p>
<p>Surakarta.”</p>
<p>C. Manfaat Penelitian</p>
<p>Peneliti berharap dari hasil penelitian ini dapat mempunyai manfaat sebagai</p>
<p>berikut:</div>
<style="color: class="title"><blink><b>File Selengkapnya.....</b></blink></style="color:>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4885187213701503158-2144580893545744096?l=www.koleksiskripsi.com' alt='' /></div>
<p><strong>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</strong> adalah salah satu contoh  <i>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</i> kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online <u>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</u> untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload <strong>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</strong> full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan <i>Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji</i> dalam bentuk PDF secara gratis.</p>
<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="judul tesis bagian anestesi">judul tesis bagian anestesi</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="contoh kti tentang pengetahuan ibu tentang gizi balita">contoh kti tentang pengetahuan ibu tentang gizi balita</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="standar industri perusahaan konstruksi">standar industri perusahaan konstruksi</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="penilaian kinerja smk jurnal">penilaian kinerja smk jurnal</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="pengaruh pakan tepung bekicot terhadap pertumbuhan ikan">pengaruh pakan tepung bekicot terhadap pertumbuhan ikan</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="pdf presepsi masyarakat jerami padi">pdf presepsi masyarakat jerami padi</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="manajemen ruangan perinatologi di rsup ham">manajemen ruangan perinatologi di rsup ham</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="kata pengantar makalah hubungan industrial">kata pengantar makalah hubungan industrial</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="jurnal tentang tujuan perusahaan">jurnal tentang tujuan perusahaan</a>,<a href="http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/" title="definisi kepribadian dan hubungan konversi dengan kepribadian">definisi kepribadian dan hubungan konversi dengan kepribadian</a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.contohmakalah.net/hubungan-antara-perilaku-asertif-dengan-efektivitas-kerja-pada-guide-penyelenggaraan-umroh-dan-haji/2012/1703/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Served from: www.contohmakalah.net @ 2012-05-19 18:58:52 -->
