Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan adalah salah satu contoh Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan dalam bentuk PDF secara gratis.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap manusia, baik sedikit atau banyak pasti memiliki tujuan-tujuan yang
hendak dicapai untuk keberhasilan hidupnya. Untuk mencapai tujuan tersebut
dibutuhkan kemauan dan kemampuan. Kemauan yang kuat akan memberikan
warna yang kuat dari dalam individu terhadap keberhasilan dalam mencapai cita-
cita. Secara keseluruhan tingkah laku manusia dituntut untuk mencapai kemajuan
dan mewujudkan diri sendiri di dalam dunianya memerlukan motivasi.
Ahmadi dan Supriyono (1991: 38) berpendapat bahwa motivasi adalah suatu
kekuatan dari dalam untuk mencapai tujuan tertentu Semua motivasi manusia
berpangkal pada 3 macam motivasi, yaitu (1) motivasi mempertahankan diri, (2)
motivasi mempertahankan jenis dan (3) motivasi mengembangkan diri. motivasi
yang dimiliki oleh individu untuk memenuhi kebutuhan akan prestasi kerja adalah
motivasi untuk mengembangkan diri sehingga dapat mencapai rasa kepuasan
kerja sesuai dengan tujuan yang dinginkan disebut motivasi berprestasi.
Dalam manajemen organisasi motivasi sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan prestasi kerja. Dikatakan oleh Wijono (2003: 36) bahwa motivasi
kerja dapat ditimbulkan oleh komunikasi yang positif dan harmonis dalam
organisasi. Motivasi kerja ini dapat menimbulkan motivasi berprestasi dalam
kerja sehingga antara atasan dan bawahan dalam organisasi secara bersama-sama
untuk prestasi kerja lebih baik sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Semakin
tinggi motivasi kerja, semakin tinggi juga prestasi yang diperlihatkan sehingga
dalam diri karyawan atau pengawai akan memiliki motivasi berprestasi dalam
kerjanya.
Motivasi berprestasi menurut Lindgren (As’ad, 1995: 34) adalah dorongan
yang berhubungan dengan prestasi, yaitu adanya keinginan individu untuk
menguasai, mengatur lingkungan sosial maupun lingkungan fisik, mengatasi
rintangan, mempertahankan kualitas kerja yang tinggi dan bersaing melalui usaha-
usaha yang keras untuk melebihi prestasinya orang lain.
Prestasi tinggi yang dimiliki seorang individu ini dibutuhkan oleh setiap
perusahaan dalam mencapai tujuan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Perkembangan perusahaan dapat maju membutuhkan tenaga manusia yang
terampil dan cekatan dalam menyelesaikan tugas-tugas atau tanggung jawabnya.
Tenaga kerja yang terampil dan cekatan dalam menyikapi perubahan masyarakat
dalam bidang ekonomi akan mampu bersaing dengan SDM lain dalam bisnis di
bidang ekonomi.
Munurut Musanef (1990: 23) berhasilnya suatu perusahaan sangat
ditentukan oleh orang-orang yang berada di dalam organisasi, baik yang
digerakkan maupun yang menggerakkan. Suatu organisasi tidak akan berhasil
mencapai tujuan apabila tenaga kerja tidak memenuhi persyaratan-persyaratan
yang ditentukan oleh kerjasama tersebut. Jadi manusia sebagai tenaga kerja yang
pencipta ide-ide dalam pekerjaan merupakan faktor penentu atau produktivitas
yang paling besar besar dalam aktivitas suatu perusahaan. Untuk itu, supaya
manusia yang bekerja sesuai dengan tuntutan perusahaan, maka harus ada
integrasi antara karyawan dan perusahaan. Pemahaman yang baik terhadap
karyawan sangat diperlukan untuk menciptakan semangat kerja yang tinggi pada
karyawan dalam melakukan pekerjaan dan tugasnya. Pemahaman dari perusahaan
atau pimpinan akan membuat karyawan termotivasi untuk berprestasi demi
dirinya dan perusahaan.
Masalah motivasi berprestasi yang dimiliki oleh karyawan dapat
memberikan sumbangan yang tidak dapat dihitung dengan imbalan, karena hal ini
dapat meningkatkan produktivitas yang akan berpengaruh perkembangan suatu
perusahaan sehingga perusahaan memperoleh keuntungan serta dapat menjaga
kelangsungan hidup dan masa depan. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan
karyawan yang mempunyai motivasi berprestasi sehingga dapat mempertahankan
kualitas kerja tinggi dan bersaing melalui usaha-usaha yang ditemui dapat
diselesaikan dengan baik sehingga produktivitas kerja dapat meningkat lebih
tinggi.
Perilaku karyawan dalam aktivitas kerja untuk meningkatkan produktivitas
memerlukan dorongan-dorongan tertentu, salah satu dorongan tersebut adalah
dengan memberikan penghargaan bagi karyawan yang berprestasi. Moekijat
(1998: 154) berpendapat bahwa penghargaan merupakan salah satu kebutuhan
yang diperlukan dalam organisasi, sebab dengan pemenuhan kebutuhan akan
penghargaan seorang individu dapat merasa dihargai, dihormati, dan dapat
memberikan simbol status yang positif bagi karyawan. Kurniawan (2002: 125)
menyatakan bahwa bentuk pemberian penghargaan tersebut dapat berupa gaji,
promosi, bonus, pengakuan dan pujian. Penghargaan faktor penting bagi
karyawan sebab pemberian penghargaan ini berdampak pada perilaku dan kinerja
karyawan.
Perilaku dan kinerja karyawan yang berkaitan dengan prestasi dan
penghargaan dalam diri karyawan sebagai seorang individu merupakan salah satu
kebutuhan. Dikatakan oleh Maslow (dalam Koswara, 1991: 110) bahwa
kebutuhan penghargaan dari orang lain (perusahaan) dapat meningkatkan rasa
harga diri (need for self-esteem). Individu sebagai tenaga kerja dalam perusahaan
membutuhkan penghargaan atas kemampuan yang dimiliki dan tindakan yang
telah dilakukannya. Untuk memenuhi kebutuhan harga diri yang berupa
penghargaan dari perusahaan, karyawan berusaha untuk bekerja lebih baik dari
orang lain yang mendorong karyawan tersebut dapat menyelesaikan tugas lebih
sukses guna mencapai prestasi yang tinggi. Apabila individu dapat mencapai
prestasi tinggi akan timbul rasa kepuasan dalam hatinya.
Kepuasan kerja karyawan dalam suatu perusahaan merupakan faktor
penting yang perlu diperhatikan oleh seorang pimpinan. Sebab kepuasan kerja
karyawan merupakan salah satu faktor untuk menciptakan jalannya suatu
organisasi dapat berjalan harmonis. Karyawan yang merasa puas akan hasil
kerjanya secara langsung akan meningkatkan berprestasi kerja untuk memperoleh
hasil kerja yang maksimal. Maslow berpendapat bahwa kepuasan dirasakan oleh
individu, bukan oleh sebagian tubuh individu. Lebih rinci konsep Maslow
dalam hubungan kebutuhan dan rasa kepuasan sebagai berikut:
1. Apabila suatu kebutuhan telah terpuaskan individu pada saat tersebut tidak
akan berusaha untuk meneruskan pemuasannya, melainkan akan berusaha
memuaskan kebutuhan lain yang lebih tinggi, dan
2. Kebutuhan yang tingkatannya lebih rendah pemuasannya lebih mendesak dan
akan didahulukan oleh individu dari pada kebutuhan yang lebih tinggi (dalam
Koeswara, 1991: 111).
Berdasar pada pengertian kutipan di atas dapat dipahami bahwa manusia
sebagai tenaga kerja yang disebut dengan karyawan dalam kehidupannya
berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang ingin dicapai mendorong
karyawan tersebut untuk menyelesaikan tugas lebih sukses sehingga dapat
mencapai prestasi tinggi. Apabila individu dapat mencapai prestasi tinggi akan
timbul rasa kepuasan dalam hatinya. Kebutuhan berprestasi dan rasa kepuasan
yang yang dicapai mendorong individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan guna
mencapai tujuannya tersebut.
Kepuasan kerja karyawan dalam suatu perusahaan atau organisasi
merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan oleh seorang pimpinan,
terlebih-lebih pada karyawan bagian pemasaran pada perusahaan yang
memproduksi hasil barang. Sebab kepuasan kerja karyawan bagian pemasaran
merupakan salah satu faktor untuk menciptakan jalannya suatu organisasi dapat
berjalan lancar. Dengan adanya kepuasan kerja akan penghargaan yang diberikan
perusahaan pada karyawan bagian pemasaran, dapat memotivasi karyawan bagian
pemasaran meningkatkan prestasinya sehingga penjualan barang dapat meningkat.
Uraian tersebut di atas dapat dipahami bahwa antara motivasi berprestasi
dengan kepuasan akan penghargaan pada karyawan dalam suatu perusahaan
mempunyai kaitan yang erat. Untuk itu, permasalahan dalam penelitian ini dapat
dirumuskan: “Apakah ada hubungan antara kepuasan akan penghargaan dengan
motivasi berprestasi pada karyawan?”.
Berdasarkan permasalahan yang telah ditentukan tersebut, maka skripsi ini
diberi judul: “Hubungan antara kepuasan akan penghargaan dengan motivasi
berprestasi pada karyawan”.
B. Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk:
Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan adalah salah satu contoh Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Antara Kepuasan Akan Penghargaan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan dalam bentuk PDF secara gratis.
Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta adalah salah satu contoh Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta dalam bentuk PDF secara gratis.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Saat menjalankan fungsinya sebagai salah satu elemen utama dalam suatu
sistem kerja, karyawan tidak bisa lepas dari berbagai kesulitan dan masalah. Begitu
pula dalam dunia pendidikan. Salah satu masalah yang sering dan menjadi persoalan
misalnya job insecurity. Greenhalgh dan Rosenblatt (Farida, 2003) mendefinisikan
job insecurity sebagai “ketidakberdayaan untuk mempertahankan kesinambungan
yang diinginkan dalam kondisi kerja yang terancam”.
Job insecurity dapat dialami oleh siapapun dengan jenis pekerjaan apa saja,
secara umum orang berpendapat bahwa semakin tinggi jabatan yang dimiliki oleh
seseorang maka ia akan semakin mudah pula mengalami job insecurity karena beban
tanggung jawab yang harus ditanggungnya juga semakin besar dibanding pemegang
jabatan yang lebih rendah. Anggapan semacam ini sebenarnya kurang tepat karena
orang yang bekerja di bawahnya juga dapat mengalami tekanan dalam pekerjaan. Jadi
tidak hanya pimpinan saja yang dapat mengalami job insecurity tetapi karyawan
biasapun bisa mengalaminya. Dalam batas-batas job insecurity tekanan masih dapat
ditoleransi, tetapi bila melampaui batas daya tahan seseorang akan mengakibatkan
kerusakan penyimpangan-penyimpangan fisiologis, psikologis serta menyebabkan
hubungan yang tidak harmonis perilaku pada orang-orang yang terlibat dalam
organisasi (Farida, 2003).
Green (2003) menyatakan job insecurity sebagai kegelisaan pekerjaan, yaitu
sebagai suatu keadaan dari pekerjaan yang terus menerus dan tidak menyenangkan.
Karyawan yang mengalami job insecurity dapat mengganggu semangat kerja
sehingga efektifitas dan efisiensi dalam melaksanakan tugas tidak dapat diharapkan
dan juga akan mengakibatkan turunnya produktivitas kerja. Akibat turunnya
produktivitas tentu saja mempengaruhi keberlangsungan organisasi.
Guru sebagai pendidik maupun sebagai pengajar merupakan salah satu faktor
penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan. Gurulah yang seharusnya paling
memahami, mengapa prestasi belajar murid-muridnya menurun, mengapa sebagian
murid bolos atau putus sekolah, metoda mengajar apakah yang efektif, apakah
kurikulumnya dapat dilaksanakan, dan sebagainya. Guru-guru bersama kepala
sekolah dapat bekerjasama untuk memecahkan masalah-masalah yang menyangkut
proses pembelajaran tersebut. Untuk itu kepala sekolah dan guru-guru harus
dikembangkan kemampuannya dalam melakukan kajian serta analisis agar semakin
peka terhadap dan memahami dengan cepat cara-cara pemecahan masalah pendidikan
di sekolahnya masing-masing (Kartono, 2002).
Idealnya, mutu calon mahasiswa pendidikan guru harus yang terbaik karena
tugas mereka yang demikian penting di masa depan, yaitu mengembangkan SDM
bangsa ini seutuhnya. Guru mempunyai tugas penting dalam menumbuhkembangkan
kemampuan dan keterampilan siswa, serta menanamkan nilai-nilai yang baik
kepadanya. Mutu calon guru itu hanya akan dapat ditingkatkan jika profesi guru itu
benar-benar merupakan karier yang lebih memuaskan baik secara ekonomi maupun
profesional. Tentunya, masyarakat akan bersedia membayar mahal guru jika profesi
guru itu benar-benar langka dibutuhkan dan tidak setiap orang awam bisa melakukan
pekerjaan sebagai guru (Kartono, 2002).
Kenyataan pada masa sekarang terlihat adanya ketimpangan kesejahteraan
antara guru (PNS) dengan guru swasta. Sekolah negeri sejak awal pendirian sudah
difasilitasi oleh pemerintah, baik sarana dan prasarana maupun gaji gurunya.
Meskipun sudah ada yang berstatus Badan Usaha, seperti Universitas Gadjah Mada
(UGM) Yogyakarta. Tapi, biaya pendidikan merangkak naik, malah melebihi sekolah
swasta. Menjadi tidak adil bila para guru negeri gajinya berulang kali dinaikkan,
sementara gaji guru swasta atau honorer tetap jalan di tempat. Itu pun masih dibebani
pajak penghasilan yang mungkin juga untuk menggaji para guru negeri.
Darmaningtyas (dalam Kartono, 2002) mengemukakan situasi paling berat
dialami oleh para guru di sekolah-sekolah swasta kecil, baik yang ada di desa maupun
di kota. Basis material sekolah-sekolah swasta bergantung pada jumlah siswa;
semakin besar jumlah siswa semakin kuat pula sekolah itu, sebaliknya semakin kecil
jumlah siswa semakin lemah pula kondisi sekolah swasta tersebut. Mantan
Mendiknas Abdul Malik Fadjar (Kartono 2002) mengatakan bahwa guru bukanlah
buruh, tentu saja berkait dengan hakikat tugasnya. Ironisnya, sejumlah besar guru-
terutama guru swasta dan honorer-menerima pembayaran secara eceran alias sesuai
jam mengajarnya, dan itu berarti cara pembayaran buruh. Kalau selama seminggu
mengajar terus-me-nerus selama 40 jam pelajaran, maka dalam hitungan honor
selama sebulan seorang guru akan membawa pulang Rp 200.000, seandainya honor
per jam Rp 5.000. Status para guru demikian tidak memungkinkan perolehan
berbagai tunjangan atau dana pensiun.
Kenyataan lain yang bisa menambah stres seorang guru swasta seperti
kelangsungan mengajar pada guru swasta. seorang guru swasta biasanya terikat pada
kontrak kerjanya, jika kinerja guru swasta kurang bagus maka dia akan segera
dikeluarkan dari yayasan. Bila seorang guru swasta yang mendapat perlakukan tidak
adil dari pihak yayasan yang menaungi sebuah lembaga pendidikan, dia harus lebih
banyak menerima itu dengan pasrah. Hal itu karena tidak ada aturan yang jelas
tentang status hukum guru swasta Misalnya kasus yang belum lama terjadi di
Grobogan, Semarang. Seorang guru bantu (swasta) yang dipecat dengan alasan tidak
bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Sebagaimana buruh perusahaan yang
dilindungi UU Ketenagakerjaan, guru bantu yang di-PHK juga harus diperlakukan
hak-haknya seperti halnya guru PNS sesuai dengan UU yang berlaku (Iskandar,
2003).
Dari sudut pandang manajemen guru, disadari atau tidak, adanya perlakuan
diskriminatif baik administratif maupun edukatif dalam keseluruhan pengelolaannya.
Hal ini dapat dipahami karena pola-pola manajemen guru senantiasa merujuk pada
ketentuan guru yang berstatus PNS. Dari aspek unsur dan prosesnya, masih dirasakan
terdapat kekurang-terpaduan antara sistem supervisi dan pembinaan guru. Guru PNS
mempunyai kesempatan mengumpulkan angka kredit untuk memperoleh kenaikan
pangkat, memperoleh kesempatan peningkatan diri melalui penataran, mengikuti
pendidikan lanjut, dan hak-hak lainnya, sementara guru bantu (swasta) tidak sempat
menikmati fasilitas itu. Hal itu makin diperparah dengan beragamnya kebijakan
pemerintah daerah otonom yang merasa punya kewenangan mutlak untuk mengelola
mereka. Dengan perlakuan seperti itu, kesempatan pengembangan profesi di kalangan
guru bantu tidak dilakukan secara terprogram dalam keseluruhan manajemen guru.
Seperti yang diberitakan pada harian Kompas (dalam Gunawan, 2005) ratusan guru
bantu (swasta) melakukan demontrasi di Gedung DPR Jakarta untuk menuntut
ketidakadilan yang selama ini dirasakan oleh guru bantu, antara lain tentang kejelasan
status hukum mereka yang sudah mengajar begitu lama, kesejahteraan yang minim
dan tidak adanya penghargaan yang sepadan atas kinerja yang telah dilakukan..
Berkembang dan berakarnya sistem nilai sosial dan budaya masyarakat di
suatu tempat juga mempengaruhi kualitas kompetensi pribadi, sosial, kedisiplinan
dan profesional para guru bantu dalam mengemban tugasnya sebagai pendidik.
Misalnya setelah diberlakukannya UU No 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah,
sebagian besar pekerjaan rumah pemerintahan pusat menjadi urusan daerah
termasuk di dalamnya masalah pendidikan, terlebih khusus pada pokok bidang
sumber daya, finansial, dan sarana prasarana lokal tanpa perencanaan yang matang
dan prospektif. Misalnya saja antara guru yang mengajar di daerah perkotaan dan
pedesaan, kendala yang dihadapi oleh guru bantu yang mengajar di daerah pedesaan
relatif lebih berat dibandingkan daerah kota, baik itu dari segi sarana transportas,
prasarana mengajar, dan keuangan daerah. (Gunawan, 2005)
Pemerintah telah merencanakan bahwa fokus pembangunan adalah
peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan pendidikan sebagai kunci
utamanya. Ini bisa dipahami dari konteks masyarakat Indonesia yang sudah tergolong
masyarakat industri modern. Surya (2004) mengemukakkan meski terbilang sulit
untuk menentukan karakteristik atau ukuran yang tepat dalam mengukur mutu
pendidikan, tetapi ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukurnya,
yaitu (1) kualitas guru dan (2) alat bantu proses pendidikan. Khusus pada hal pertama,
ada beberapa faktor yang mengakibatkan rendahnya mutu guru di semua jenjang
pendidikan. Pertama, kurangnya kesadaran dari para guru untuk mengembangkan
profesi keguruannya sehingga memunculkan guru-guru yang berpredikat “tukang
mengajar”, berpengetahuan statis, tidak cerdas, dan berbau “konservatif”, serta tidak
peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Profil guru seperti ini tidak hanya
ada di lembaga atau institusi pendidikan dasar saja, tetapi juga mulai merambah ke
lembaga pendidikan tinggi.
Kedua, banyaknya beban yang harus ditanggung sendiri oleh guru akibat
adanya tuntutan profesinya untuk menciptakan lulusan pendidikan yang prima tanpa
dibarengi perolehan finansial yang mencukupi kebutuhannya. Kondisi demikian
mengakibatkan adanya guru “nyambi”, dan konsentrasi guru yang demikian dalam
mentransferkan ilmunya tidak terfokus dengan baik dan hatinya tidak tenang. Ketiga,
adanya kasus-kasus sosial yang melibatkan oknum guru dan merusak citra guru
sebagai panutan moral. Hal ini dapat mengakibatkan ketidakharmonisan dalam
kontak antarpelaku pendidikan, antara guru dan siswa, sehingga proses transfer
keilmuan terganggu. Berbagai sorotan tajam terhadap profesi guru memang tidak
pernah berhenti. Satu di antaranya adalah ihwal pemotongan gaji guru yang
mengakibatkan mereka menjadi stres berat. Demikian pula suara-suara sumbang
terhadap rendahnya mutu calon guru.
Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah dinilai tidak memberikan
perhatian yang layak terhadap nasib guru dari sekolah swasta baik dari aspek hukum
maupun lainnya. Bahkan, posisi hukum guru swasta tersebut dinilai lebih rendah dari
buruh pabrik. “Kalau buruh pabrik diperlakukan tidak adil oleh perusahaan atau
misalnya di-PHK, mereka memiliki aturan hukum yang jelas bagaimana mengurus
nasib mereka dan apa yang akan mereka peroleh dari suatu tindakan PHK tersebut.
Namun, tidak demikian bila seorang guru swasta yang mendapat perlakukan tidak
adil dari pihak yayasan yang menaungi sebuah lembaga pendidikan, dia harus lebih
banyak menerima itu dengan pasrah. “Hal itu karena tidak ada aturan yang jelas
tentang status hukum guru swasta tersebut,” sangat berbeda dengan guru dengan
status pegawai negeri yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia
(PGRI) yang memiliki aturan hukum yang jelas tentang status mereka.
Padahal, kalau dilihat dari jumlah guru swasta di Indonesia jauh lebih besar
dibandingkan guru dengan status PNS. “Perbandingannya bisa mencapai 1:6 mulai
dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi (Iskandar, 2005)
Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, kepuasan kerja
secara langsung maupun tidak langsung merupakan penghambat aktivitas kerja yang
bekerja dalam organisasi. Persoalan-persoalan yang terjadi dalam lingkungan kerja
seperti konflik dengan teman, perselisihan, kepuasan kerja maupun ketidakmampuan
karyawan dalam menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya
berpeluang besar terhadap munculnya job insecurity. Berdasarkan uraian-uraian
tersebut maka dapat dibuat pertanyaan penelitian 1) Apakah ada hubungan antara
kepuasan kerja dengan job insecurity? 2) Apakah ada perbedaan kepuasan kerja dan
job insecurity antara guru negeri dan guru swasta?
Mengacu dari pertanyaan penelitian di atas, maka penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian yang berjudul “Hubungan antara Kepuasan Kerja dengan
Job Insecurity pada Guru Negeri dan Guru Swasta”.
Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta adalah salah satu contoh Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Job Insecurity Pada Guru Negeri Dan Guru Swasta dalam bentuk PDF secara gratis.
contoh analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba dan nilai perusahaan,tugas makalah jurnal,skripsi pengaruh komunikasi interpersonal terhadap komitmen organisasi,pengertian media manik-manik pada paud,makalh tentang citra produk,makalah penelitian tentang baju gamis,makalah jurnal tentang lem,karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan beserta contohnya,judul tesis penelitian di dinas pendidikan,contoh tugas akhir komunikasi dengan filterHubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja adalah salah satu contoh Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja dalam bentuk PDF secara gratis.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya selain sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan
makhluk sosial. Dalam kehidupan sosial, individu tidak lepas dalam pergaulan
dengan individu lainnya, karena sebagai makhluk sosial individu harus
berinteraksi dengan individu lainnya. Begitu pula masa remaja secara psikologis,
pada masa remaja mulai terjadi usaha pencarian jati diri yang termanifestasi dalam
bentuk keinginan untuk berada didalam kelompok dengan cara bergaul dengan
orang lain disekitarnya (Mappiare, 1982).
Pada kehidupan sehari-hari, orang yang penyesuaian sosialnya tinggi akan
mudah mendapatkan teman, berkomunikasi dengan baik, menanyakan atau
memberikan informasi selama berkomunikasi. Hal tersebut dilakukan tanpa
menyebabkan perasaan tegang atau peraaan tidak enak lainnya. Dalam
lingkungan, seseorang yang mampu bergaul dapat mengemukakan pandangan
atau pendapat pribadi secara jelas tanpa menyakiti perasaan orang lain serta akan
berhasil menyakinkan lawan bicaranya mengenai pendapat-pendapat yang akan
dikemukakannya (Kelley, 1982).
Namun dalam bergaul tidak jarang individu mengalami kesulitan.
Khususnya pada remaja, tidak sedikit remaja yang menjadi seorang
individualistik, acuh, dan tidak peduli dengan orang lain maupun lingkungan.
Remaja ini lebih mementingkan kesenangan sendiri tanpa peduli dengan situasi
dan kondisi lain maupun lingkungan. Seperti dikemukakan Calhoun dan Acocella
(1995) bahwa remaja yang mengalami kesulitan penyesuaian sosial ditandai
dengan kurang beraninya memulai percakapan, sulit berkata tegas terhadap diri
maupun orang lain, akibatnya tidak mempunyai teman akrab.
Sebagai contoh ketika berada di sekolah, siswa yang penyesuaian
sosialnya baik akan mempunyai kemampuan untuk berinteraksi secara baik pula
dengan teman-temannya di sekolah maupun dengan para guru. Interaksi yang
terjalin akan semakin menumbuhkan kebersamaan dan toleransi di antara siswa,
toleransi tersebut dapat berupa saling tolong menolong. Apabila salah satu siswa
mengalami kemunduran dalam hal pelajaran, maka dengan adanya penyesuaian
sosial yang baik siswa tersebut dapat meminta pertolongan siswa yang lainnya.
Di Indonesia pada tahun 1996 Pusbang Kurrandik (Pusat Pengembangan
Kurikulum dan Sarana Pendidikan) Balitbang Dikbud melakukan penelitian
terhadap 4994 siswa sekolah menengah atas di provinsi Jabar, Lampung, Kalbar
dan Jatim, mendapatkan hasil bahwa 696 dari siswa SLTA (13,94 %) tersebut
mengalami kesulitan dalam aktivitas belajar umum, dan 479 di antaranya
disebabkan oleh gangguan tingkah laku misalnya nakal, sulit diatur, suka
melawan, sering membolos dan berperilaku antisosial. Siswa dengan gangguan
tingkah laku ini seringkali mempunyai prestasi akademik di bawah taraf yang
diperkirakan (Wiguna, 2000)
Kartono, (1985) menyatakan bahwa penyesuaian sosial adalah
keberhasilan seseorang untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri terhadap orang
lain pada umumnya dan pada kelompok pada khususnya. Penyesuaian sosial
dalam arti umum adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan
ataupun mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan sendiri. Dengan demikian
penyesuaian ada yang berarti “pasif” dimana individu yang dipengaruhi
lingkungan dan ada yang berarti “aktif” dimana individu yang mempengaruhi
lingkungan (Gerungan, 1987).
Menurut Mappiare (1982) penyesuaian sosial adalah kemampuan individu
untuk berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan sekitar dalam rangka
memenuhi kebutuhan untuk dapat diterima oleh orang lain baik sesama jenis
kelamin atau lawan jenis agar memperoleh rasa dibutuhkan dan rasa berharga.
Ketika individu mulai bergaul dengan orang lain, individu tidak lagi hanya
menerima, tapi individu juga dapat memberikan kontak sosial. Individu mulai
mengerti bahwa di dalam suatu kelompok terdapat norma-norma sosial yang
hendaknya dipatuhi dengan rela agar dapat melanjutkan hubungan dengan
kelompok tertentu secara lancar.
Menurut Meichati (1983) penyesuaian dapat berlangsung karena ada
dorongan manusia untuk memenuhi kebutuhan, dimana dalam pemenuhan
kebutuhan itu manusia berusaha mencapai keseimbangan antara tuntutan sosial
dengan harapan yang ada didalam dirinya. Dengan adanya dorongan untuk
memenuhi kebutuhan maka individu dituntut untuk berinteraksi dengan individu
lain dan didalamnya akan terjadi proses saling mempengaruhi yang silih berganti
antara anggota-anggotanya.
Agar berhasil membina hubungan sosial dengan lingkungannya remaja
harus berperilaku asertif. Karena perilaku asertif merupakan salah satu faktor yang
penting agar seseorang mampu melakukan komunikasi yang bermakna dan
menyenangkan dengan orang lain. Komunikasi yang bermakna adalah
keterbukaan percakapan yang realistik, misal dapat mengkomunikasikan dengan
baik pikiran, perasaan, kesalahan atau kegagalan, masalah dan jalan keluarnya
kepada orang lain. Perilaku asertif dapat membantu seseorang dalam penyesuaian
sosial di masyarakat. Hal ini dikarenakan dalam proses penyesuaian sosial
dibutuhkan keterbukaan, kesadaran diri, kemampuan menyesuaikan diri dan
perhatian terhadap hak-hak orang lain (Calhoun dan Acoccela, 1995).
Perilaku asertif sangat diperlukan untuk berkomunikasi dengan orang lain
sebab sebagai makhluk sosial yang sepanjang hidupnya selalu terlibat dengan
orang lain maka disadari atau tidak kemampuan berhubungan dengan orang lain
sangat dibutuhkan oleh manusia. Kemampuan berkomunikasi atau berhubungan
dengan orang lain memiliki andil yang besar baik di lingkungan sekolah,
pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan pendapat Agustin
(1993) bahwa perilaku asertif dapat menolong seseorang untuk
mengkomunikasikan secara jelas dan tegas atas kebutuhan-kebutuhan, keinginan
dan perasaan kepada orang lain.
Berdasarkan uraian di atas nampaklah bahwa perilaku asertif mempunyai
peranan yang penting bagi penyesuaian sosial. Bila individu berperilaku asertif,
mampu menyatakan perasaan dan keyakinan secara terbuka, langsung, jujur dan
sebagaimana mestinya akan mengembangkan dirinya lebih percaya diri, lebih
luwes, dan ramah serta lebih pandai bergaul sehingga akan memiliki penyesuaian
sosial yang baik.
Mengacu dari latar belakang masalah di atas maka yang menjadi rumusan
masalah adalah: apakah ada hubungan antara perilaku asertif dengan penyesuaian
sosial pada remaja. Dari rumusan masalah tersebut penulis tertarik untuk
mengkaji secara empirik dengan melaksanakan penelitian dengan judul
“Hubungan antara perilaku asertif dengan penyesuaian sosial pada remaja.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui hubungan antara perilaku asertif dengan penyesuaian sosial
pada remaja.
2. Untuk mengetahui sejauhmana kondisi perilaku asertif pada subjek penelitian.
3. Untuk mengetahui sejauhmana kondisi penyesuaian sosial pada subjek
penelitian.
C. Manfaat Penelitian
Apabila hipotesis penelitian ini terbukti maka diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai berikut :
Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja adalah salah satu contoh Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja dalam bentuk PDF secara gratis.
contoh acknowledgements,contoh makalah tentang ape,donwload makalah APE,Pemrakarsa akuntansiHubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji adalah salah satu contoh Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji dalam bentuk PDF secara gratis.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Saat sekarang yang merupakan era globalisasi, tak bisa dipungkiri bahwa
persaingan di segala bidang kehidupan semakin ketat. Persaingan itu mencakup
bidang ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Persaingan di bidang ekonomi tentunya
akan melibatkan berbagai perusahaan baik itu perusahaan tingkat bawah, menengah
serta atas, maupun perusahaan di sektor penghasil produk atau jasa pelayanan.
Salah satu bidang persaingan yang memerlukan kejelian dalam pengelolaan
manajemen yakni perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan konsumen.
Perusahaan seperti itu seharusnya lebih menitikberatkan pada kualitas sumber daya
manusia karena bagaimanapun, karyawan yang bergerak di bidang jasa akan
berhubungan langsung dengan pelayanan kepada konsumen. Salah satu perusahaan
yang bergerak di bidang pelayanan konsumen yakni pelayanan umroh maupun haji.
Menunaikan ibadah haji, wajib hanya untuk sekali seumur hidup bagi yang
mampu, karena sekali pergi haji harus benar dan syah. Upaya penyempurnaan sistem
dan manajemen penyelenggaraan ibadah haji perlu terus ditingkatkan agar
pelaksanaan ibadah haji berjalan aman, tertib, dan lancar sesuai dengan tuntutan
agama. Akan tetapi banyak jamaah haji yang menyesal setelah pulang dari tanah suci
karena pihak perusahaan penyelenggara ibadah haji atau umroh melalui pemandu
atau pembimbingnya ternyata tidak mampu memimpin jamaahnya.
Sebagai perusahaan yang berhubungan langsung dengan pelayanan kepada
konsumen maka efektivitas kerja seorang guide atau pemandu yang melayani umroh
maupun haji sangat dituntut demi tercapainya tujuan perusahaan tersebut yakni
pelayanan yang baik dan sesuai dengan apa yang menjadi keinginan konsumen,
dalam hal ini adalah orang-orang yang ingin melaksanakan ibadah haji maupun
umroh.
Permasalahannya yang timbul bahwa efektivitas kerja tidak akan dapat
dicapai begitu saja tanpa adanya kesadaran dari pribadi masing-masing karyawan.
Untuk itu perlu kiranya seorang karyawan yang berhubungan langsung dengan
pelayanan konsumen hendaknya selalu meningkatkan segi-segi pengembangan
kepribadian yang dapat menunjang tercapainya efektivitas kerja.
Siagian (1983) mengemukakan efektivitas kerja adalah penyelesaian
pekerjaan tepat pada waktunya, artinya apakah suatu tugas dinilai baik atau tidak
sangat tergantung bilamana tugas itu diselesaikan. Efektivitas kerja dapat berarti pula
keberhasilan pekerjaan dari para pekerja dalam melaksanakan tugas-tugasnya, yang
mana tugas-tugas itu dilaksanakan untuk pencapaian tujuan organisasi dimana
individu bekerja di dalamnya.
Efektivitas dengan tolok ukur dilihat dari segi hasil adalah perbandingan
antara hasil riil yang dicapai seseorang dengan standar hasil minimum. Apabila hasil
riil itu di atas standar hasilnya itu dikatakan normal. Tetapi apabila hasil riilnya itu
berada di bawah standar minimumnya berarti hasil kerjanya tidak efektif.
Efektivitas kerja memegang peranan yang sangat penting dalam fungsi
pengembangan perusahaan, karena bila para karyawan dapat bekerja secara efektif
maka perusahaan tersebut akan dapat memaksimalkan sumber daya manusia yang ada
dalam menghadapi segala permasalahan yang muncul, baik dari segi industrial
maupun hubungan antar manusia. Hal tersebut seperti dikemukakan oleh Danim
(2004) bahwa efektivitas kerja adalah keseimbangan atau penekanan secara optimal
pada pencapaian tujuan, kemampuan pemecahan masalah dan pemanfaatan tenaga
manusia. Selain itu, dengan adanya pencapaian efektivitas kerja yang baik maka
diharapkan suatu perusahaan akan mampu menyatukan visi dan misi antara
kepentingan pribadi karyawan dengan sasaran ataupun tujuan perusahaan.
Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Steers (dalam Siagian, 1983) bahwa
efektivitas kerja adalah adalah internalisasi pengertian tujuan dan pencapaian tujuan,
dimana individu dianggap berperan dalam rangka menggabungkan diri dalam
kesatuan organisasi. Demikian pula organisasi dipandang sebagai kesatuan
pengejaran tujuan yang berusaha menggabungkan usaha bersama para anggotanya
untuk mengejar sasaran khusus keseluruhan organisasi. Namun perlu diperhatikan,
bahwa seperti diuraikan di atas bahwa efektivitas kerja akan dapat dicapai bila ada
kesadaran dari pribadi masing-masing karyawan untuk meningkatkan kualitas
dirinya, baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari perusahaan, hal ini berarti
peran kepribadian seorang karyawan yang berhubungan langsung dengan pelayanan
konsumen sangatlah penting.
Salah satu faktor kepribadian yang dapat mendorong meningkatkan
efektivitas kerja seorang karyawan yang berhubungan dengan pelayanan konsumen
yakni perilaku asertif, karena dengan berperilaku asertif, karyawan akan mampu
mengungkapkan apa yang dipikirkan dengan cara yang konsisten, artinya individu
mampu mengekspresikan perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang
kebenaran, tidak menghina atau meremehkan orang lain.
Rathus (1992) mengemukakan perilaku asertif merupakan ungkapan
seseorang dengan cara yang konsisten sesuai dengan apa yang dipikirkan, artinya
individu mengekspresikan perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang
kebenaran, tidak menghina atau meremehkan orang lain.
Adanya perilaku asertif pada diri karyawan selanjutnya akan dapat menuntun
karyawan tersebut menjadi individu yang mampu berperilaku wajar dan sanggup
untuk mempertanggungjawabkan segala tingkah lakunya terhadap lingkungan
kerjanya. Dengan demikian karyawan yang berperilaku asertif, dalam berperilaku
tidak dibuat-buat dan terhindar dari kinerja yang hanya dimaksudkan untuk menjilat
atasan melainkan kinerja yang penuh ketulusan dalam melayani konsumen.
Sukadji (1981) menjelaskan lebih lanjut bahwa perilaku asertif merupakan
perilaku antar pribadi yang menyangkut pernyataan emosi dengan tepat, secara terus
terang dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain. Perilaku asertif dapat
mengarahkan seorang individu untuk mengemukakan emosinya secara tepat, terus
terang dan tanpa dihantui perasaan cemas sewaktu berkomunikasi dengan orang lain.
Selain itu dengan perilaku asertif pada diri karyawan, maka karyawan tersebut tidak
akan takut dalam mengemukakan hak-hak pribadi kaitannya dengan kemajuan
perusahaan dan juga mengemukakan emosi yang tepat kepada para konsumen
pengguna jasa layanan umroh maupun haji.
Lyod (1991) mengemukakan bahwa asertif adalah tingkah laku yang penuh
ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi dari setiap usaha untuk
membela hak-hak pribadi serta adanya keadaan efektif yang mendukung, meliputi:
mengetahui hak-hak pribadi, berbuat sesuatu untuk mendapatkan hak tersebut serta
melakukan hak tersebut sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi.
Pendapat di atas diperkuat oleh pendapat Iriani (1996) bahwa individu yang
mempunyai perilaku asertif akan menjadi individu yang tegas. Tegas karena individu
akan mempunyai alasan yang logis sehubungan dengan hak pribadi, mempunyai
penilaian bahwa seseorang boleh berpendapat atau berbicara berdasarkan kondisi
pribadi, mempunyai penilaian pada diri sendiri bahwa dirinya berhak mengemukakan
emosi secara bebas. Oleh karena itu guide atau pemandu penyelenggara umroh dan
haji dituntut untuk dapat berperilaku secara asertif, karena dengan adanya perilaku
asertif tersebut diharapkan guide dapat benar-benar menyatakan perasaan dan
keramahannya, perilakunya lebih responsif, berusaha memperlancar interaksi sosial,
bersikap hangat dan terbuka sehingga akan akan mendukung efektifitas kerja
berkaitan dengan pelayanannya terhadap para konsumen.
Mengacu pada uraian-uraian di atas maka dapat dibuat pertanyaan penelitian:
apakah karyawan yang berperilaku asertif akan memiliki efektifitas kerja yang tinggi?
Dari pertanyaan tersebut, peneliti ingin membuktikan secara empiris dan mengadakan
penelitian dengan judul “Hubungan antara perilaku asertif dengan efektivitas kerja
guide pada penyelenggara umroh dan haji di Surakarta.”
B. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui “Hubungan antara perilaku
asertif dengan efektivitas kerja guide pada penyelenggara umroh dan haji di
Surakarta.”
C. Manfaat Penelitian
Peneliti berharap dari hasil penelitian ini dapat mempunyai manfaat sebagai
berikut:
Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji adalah salah satu contoh Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Efektivitas Kerja Pada Guide Penyelenggaraan Umroh Dan Haji dalam bentuk PDF secara gratis.
judul tesis bagian anestesi,contoh kti tentang pengetahuan ibu tentang gizi balita,standar industri perusahaan konstruksi,penilaian kinerja smk jurnal,pengaruh pakan tepung bekicot terhadap pertumbuhan ikan,pdf presepsi masyarakat jerami padi,manajemen ruangan perinatologi di rsup ham,kata pengantar makalah hubungan industrial,jurnal tentang tujuan perusahaan,definisi kepribadian dan hubungan konversi dengan kepribadianHubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# adalah salah satu contoh Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# dalam bentuk PDF secara gratis.
Pnemonia termasuk 10 besar Penyaki dan merupakan salah satu
penyebab kematian balita di Indonesia. Sala satu faktor risiko penyebab
insidens dan mortalitas Pnemonia adalah kuran Gizi (KEP).
Di Kota Jambi pada tahun 2001, Prey lensi Pnemonia pada Balita
adalah sebesar 2,1 % dan Prevalensi KEP seb sar 1,86 %. Meskipun angka
prevalensi tersebut kecil, yang dikhawatirkan a alah bila tidak mendapatkan
penanganan yang baik dapat menyebabkan kematian. Dan juga belum
diketahui apakah anak yang menderita penya it Pnemonia juga mengalami
KEP.
Tujuan penelitian ini adalah untuk engetahui hubungan KEP
terhadap kasus penyakit Pnemonia. Penelitian ni termasuk penelitian survai
analitik observasional dengan pendekata Cross Sectional, lokasi
penelitian seluruh Puskesmas di Kota Jambi (20 Puskesmas). Populasi
dalam penelitian ini adalah balita yang saki Pnemonia dan sampelnya
seluruh anak balita yang sakit Pnemonia pada b Ian Februari dan berkunjung
ke Puskesmas yaitu sebanyak 43 orang balit , diambil secara accidental
sampling.
HasHdari penelitian, penderita penyakit Pnemonia berat sebanyak 9
orang (20,9 %) dan Pnemonia ringan 34 oran (79,1 %). Balita yang sakit
Pnemonia berat dan juga KEP sebanyak 7 oran (77,8 %) dan yang dengan
gizi baik 2 orang (22,2 %). Sedangkan Balita ya g sakit Pnemonia ringan dan
juga menderita KEP sebanyak 21 orang (61,8 %) dan yang dengan status
gizi baik sebanyak 13 orang (38,2 %).
Rasio Prevalens ,.sebesar1,875 dengan CI 95 % (0,444;7,921) dan
hasil analisis regresi nilai F hitung 0,781 deng n probabilitas 0,382 > 0,05..
Hipotesa alternatif ditolak dan hipotesa nol diteri a.
Dari peneliian yan,gdilkukan maka dapat isimpulkan bahwa tidak ada
hubungan yang bermakna antara KEP terhada kasuspenyakit Pnemonia di
Kota Jambi tahun 2002. Terjadinya Pnemonia erat pada balita yang KEP
kemungkinan disebabkan faktor kebetulan.
Disarankan perlu penelitian lebih lanju dimasa yang akan datang
dengan kasus yang lebih banyak dan rentan waktu yang lebih panjang
untuk menghindari terjadinya kesalahan-kesalah n dalam penelitian.
Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# adalah salah satu contoh Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Hubungan Kurang Energi Protein Dengan Kasus Penyakit Pnemonia Pada Balita Di Kota Jambi Tahun 2002# dalam bentuk PDF secara gratis.
analisa data produktivitas kerja di perusahaan manufaktur,contoh makalah permasalahan yang dihadapi perusahaan dimakassar,kuesiner menentukan menopause ya atau tidak,kumpulan makalah tugas tugas marginal,makalah pertumbuhan dan perkembangan anak balita
